Uji Komptensi

Ujikom Reguler Jakarta 7 Oktober 2017

Sertifikasi uji kompetensi fotografi level 3
Leskofi berkerjasama dengan Jakarta school of photography mengadakan sertifikasi Fotografi level 3 yang diperuntukkan buat fotografer yang ingin menguji kompetensi tentang pengetahuan dan skillnya dibidang photography

Waktu pendaftaran 15 Agustus – 30 september 2017
Biaya Rp. 1.000.000,-
Ujikom akan diadakan pada Sabtu 7 Oktober 2017

di Jakarta school of photography
Gedung Nyi Ageng Serang Lt 3
Kuningan Jakarta selatan

Untuk pendaftaran langsung bisa mengisi form berikut
https://docs.google.com/forms/d/e/1FAIpQLScUch6IxBFGJ0wK0Uus2aEv-an-LPAUJiZeQFXB6CC-64GAXg/viewform?c=0&w=1&includes_info_params=true

Atau Hubungi
085881750095
08161121461

Uncategorized

Mendengarkan Telinga Panjang

Catatan dari Bincang buku Telinga Panjang; Mengungkap yang Tersembunyi, karya Ati Bachtiar.

“Apakah benar apa yang saya lakukan membawa manfaat?” guman Ati dalam suatu kesempatan menjelang peluncuran buku Telinga Panjang di acara Bandung Photography Book Show 2016 (3/12). Celoteh itu masih terngiang di telinga saya, seakan-akan tugas ini menjadi beban berat seorang Ati yang nota benenya seorang ibu rumah tangga. Untuk apa seorang ibu dua anak ini berani-beraninya menapaki Kalimantan Timur hingga ke Barat? Padahal suku Dayak telinga panjang tidak meminta dirinya hadir mendokumentasikan. Namun selalu ada gundah dalam diri Ati, sepertiya ada rasa syukur yang ia terjemahkan dalam nazar yang tidak terucap. Menggali kembali keberadaan para pewaris jati diri Apokayan di hulu Mahakam, sebagai warisan dunia. Menyibak selimut misteri keberadaan Hampatong si telinga panjang; mengungkap yang tersembunyi.

***

Kapal perahu kayu itu dipacu melawan arus, sesekali harus tancap gas agar tidak tersangkut batu. Motoris atau sebutan untuk pengendara perahu, harus sigap membaca riak air. Bila air tenang menandakan dalam, namun riak semakin riuh biasanya air sungai dangkal, ditandai bongkah-bongkah batu yang tajam siap merobek lambung perahu bila tidak berhati-hati.

Semakin ke hulu perahu Ketinting ada saat-saatnya menyerah melawan arus Mahakam, terutama bila berhadapan dengan jeram-jeram yang terjal dan dalam. Dalam kondisi seperti ini, penumpang terpaksa harus turun dan memanggul bawaanya, dilanjutkan berjalan kaki melalui tepian sungai, kemudian bertemu kembali di hulu. Menaikan perahu melalui jeram bukan perkara mudah, biasanya dilakukan motoris yang telah berpengalaman dan tahu persis setiap jengkal sungai. Tragedi pernah merengut motoris dan penumpang anggota batalyon 611 yang lenyap ditelan sungai. Untuk memperingati musibah ini, ceruk tersebut dinamani ria 611. Profesi seorang motoris sungguhlah berat, selain bertanggung jawab keselamatan penumpang juga keberlangsungan rumah tangga. Karena istri sering ditinggal berhari-hari, seorang motoris harus menerima nasib sebagai “korsling” atau korban selingkuh.

Bagi suku dayak di hulu, kondisi demikian menjadi santapan sehari-hari, bahkan dianggap biasa. Aliran sungai yang diarungi biasanya akan semakin dangkal dan berbatu bila mendekati hulu. Daerah Aliran Sungai yang membentang 980 km, bermuara di Kutai Barat, melintasi Kutai Kartanegara, dan bermuara di Samarinda merupakan jalur lalu lintas penting yang menghubungkan hulu ke muara, sebagai jalur perdagangan dan kegitan sosial.

Perjalanan yang melelahkan dan berbahaya ini menjadi menu harian Ruh Hayati, atau biasa dipanggi Ati Bachtiar. Seorang ibu rumah tangga yang membulatkan tekad, mendokumentasikan komunitas telinga panjang, di hulu Mahakam, Kalimantan Timur, sebagian di Kalimantan Utara dan Kalimantan Barat yang dirangkai dalam tiga kali kunjungan. Kedatangan pertama di bulan Maret, kemudian dilanjutkan Mei 2016. Penyusunan buku ini bukan perkara mudah, karena sebelumnya telah ditata dalam bentuk perencanaan, pencarian data literatur, konsultasi, hingga pemotretan langsung ke lapangan. Mungkin ribuan bingkai yang telah di koleksi oleh Ati, mengenai keberadaan telinga panjang, baik itu terkait langsung dengan mereka, hingga situasi dan kondisi komunitas mereka tinggal. Garapan awal yang hendak disajikan dalam buku ini adalah menggunakan pendekatan portrait, namun seiring dengan perjalanan waktu, konsep tersebut kemudian berganti muatan yang lebih umum menjadi kompilasi aktivitas dan makna ritual yang tertuangkan dalam upacara budaya, ritus suku Dayak.

Kisah petualangan ibu rumah tangga ini terbayarkan, dalam bentuk buku Telinga Panjang; Mengungkap yang Tersembunyi. Buku yang disusun sebulan setelah pemotretan terbilang sangat singkat, dan tanpa jeda. Disusun oleh sang suami tercinta Ray Bachtiar, bertugas memilih foto dan merangkaikan menjadi kisah yang seperti tersaji seperti di dalam buku berdimensi 23 x 23 cm. Kemudian untuk perbaikan redaksi diraut oleh Seno Gumira Adjidarma. Terbit pertama kali tanpa nomor ISBN, bulan November 2016.

Struktur penulisan buku ini dasarnya disusun oleh Ati, kemudian dibagi menjadi tujuh bagian dalam pembabakan cerita. Fragmen-fragmen tersebut menceritakan secara runut sebelum, saat proses pendokumentasian, hingga persoalan-persoalan yang perlahan tersingkap. Dalam fragmen pertama mengisahkan awal mula dan alasan mendokumentasikan, hingga menemui beberapa masalah yang ditemui di lapangan. Informasi tersebut terbuka secara perlahan, seiring dengan penggalian informasi dari subyek melalaui metode wawancara dan pengambilan foto. Pendekatan yang digunakan Ati Bachtiar dilakukan dengan perbincangan, tanpa harus memotret terlebih dahulu. Ati menceritaka bahwa untuk memotret sang telinga panjang tidaklah mudah, karena keberadaannya di ladang pada hari kerja, bukan di desa. Tantangan berikutnya adalah para telinga panjang ini sebagian menentukan tarif untuk difoto. “Kalau pake fitur burst di kamera, tetap saja harus dihapus” ungkap Ati. Dengan demikian strategi pendekatannya yaitu dengan negosiasi melalui obrolan. Mungkin inilah keunggulan fotografer perempuan, karena bisa lebih mendekatkan dirinya dengan subyek, sehingga batas formal biasanya terbuka leluasa.

Fragmen ke dua mengupas tentang kesaksian migrasi suku Kenyah Apokayan, yang diceritakan oleh Pui Panyan (106 tahun) dari suku Dayak Kenyah Lepoq Jalan. Ia kehilangan kaki kanannya saat migrasi karena sebilah kapak menimpa kakinya. Selain itu Ati berkesempatan menyaksikan proses tanam padi di hutan ladang yang baru dibuka. Pola tanam tradisional yang masih dilakukan di sebagian suku Dayak, masih menggunakan panduan kalendar alam. Kegiatan menugal atau menanam biasanya dilakukan secara gotong royong. Di fragmen ke tiga diceritakan kegiatan piknik di sela-sela menugal atau setelah kegiatan tanam di ladang. Di kisah selanjutnya Ati dinyatakan sebagai anak angkat Christina Yek Lawing (67 tahun) dari suku Bahau, melalui prosesi adat yang singkat. Gelar yang didapatnya adalah sebutan Buaq yang berarti buah-buahan. Dari ibu angkat inilah mengalir cerita tentang persengketaan masyarakat adat Long Isun. Tanah adat seluar 80 hektar bersinggungan langsung dengan perusahaan besar pemilih HPH.

Berikutnya di fragmen ke-empat mengisahkan di upacara ritual Dayak, disebut Ritual adat Pakenong Tawai di Datah Bilang Ilir. Upacara ini merupakan ucap rasa syukur kepada yang Maha Kuasa, ditandai dengan kegiatan festival tari, paduan suara, hingga aktivitas lainya. Puncak acara ditutup dengan pencanangan Belawing Desa, yang sebelumnya dipasang 1975 pada masa orde lama. Dalam rangkaian upacara tersebut disertakan juga upacara Hudoq Pekayang dan Upacara Uman Undrat. Fungsi dan peran telinga panjang di ungkap di fragmen ke-lima. Ati merangkaikan cerita mengenai arti kecantikan bagi suku Kenyah Umaq Bakung. Termasuk proses pembentukan telinga menjadi panjang, yang membutuhkan kesabaran bertahun-tahun, kemudian berperan sebagai penanda status sosial. Selain memanjangkan telinga, di suku Bahau dan Kenyah dikenal juga seni rajah. Rajah-rajah tersebut sebagai penanda tingkatan status sosial sebagai bangsawan. Informasi hasil penelusuran Ati, mencatatkan kurang lebih 43 orang yang masih bertahan, bertelinga panjang. Alasan malu dan kurang percaya diri menjadi alasan kenapa sebagian telinga panjang harus memotong daun telingannya, agar bisa diterima di kalangan masyarakat modern. Ati mencatatkan ada 11 orang yang telah memotong daun telingannya di Puskesmas, dengan bantuan medis.

Selain kehidupan dan identitas, Ati mengarahkan lensanya ke tema kematian, saat kunjungan ke Desa Pampang, Samarinda Utara, Kalimantan Timur. Di fragmen ke-tujuh Ati menceritakan bagaimana Kenyah Bakung berduka, mengantarkan salah satu telinga panjang Amai Pejualang Injuk (88 tahun) ke peraduannya terakhir. Secercah harapan masih bisa disaksikan di desa Adat Pampang, ada beberapa generasi penerus yang masih melakoni tradisi, menjadi telinga panjang. Diantaranya Tinen Helen (45 tahun), dan Tinen Luwing (40 tahun) penari di lamin adat desa wisata Pampang.

Kerja dokumentasi ini merupakan catatan penting keberadaan telinga panjang, yang sebelumnya sering luput dari perhatian pemerintah daerah. Beberapa lembaga swadaya masyarakat lokal aktif menyuarakan identitas mereka, tetapi masih dianggap kurang lengkap dalam pendataan visual. Artinya belum ada album fotografi yang faktual mengenai keberadaan mereka saat ini.

Kerja Ati telah membuka wacana tentang identitas budaya yang tergerus pusaran jaman, hilang perlahan karena konstelasi sosial-buaya. Dalam kondisi demikian biasanya pemerintah tidak pernah hadir, tetapi ada di kebijakan-kebijakan yang selalu berpihak kepada kapital besar, atas nama investor yang berwujud kemudahan mengeluarkan izin Kesatuan Pengelolaan Hutan. Semoga melalui jalinan fragmen dalam susunan buku ini, bisa memberikan gambaran luas persoalan identitas kebangsaan, yang kini secara perlahan dikepung oleh ideologi kapitalis, dan dipudarkan secara sistematis dengan cara mengalih fungsikan hutan. Ati Bachtiar telah berjanji kepada para Inay untuk melawan lupa. (Deni Sugandi)

Uncategorized

Mamuk Memelihara Ingatan

Catatan dari bincang buku Tanah yang Hilang, Mamuk Ismuntoro

Pria bersahaja ini saya kenal awal 2002 di Surabaya, ketika ia duduk sebagai pewarta foto di majalah seni Mossaik. Setelah itu bekerja untuk editor foto Surabaya Post. memulai karir jurnalistiknya setelah menamatkan di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi  – Almamateri Wartawan Surabaya (Stikosa – AWS). Setelah itu kemudian menjadi pewarta foto selama lima tahun, kemudian memutuskan untuk berkegiatan dokumenter. 2006 mendirikan komunitas Matanesia, diantaranya memiliki program buku fotografi dan diskusi.

Melalui PanaFoto Institute, melahirkan buku foto ke-tiga Tanah yang Hilang (2014). Buku yang memuat korban Lumpur Sidoarjo ini, dikisahkan dengan apik melalui garapan bersama. Kesempatan menyusun buku ini hadir saat 2005 ia bertugas meliput perajin perak di desa Reno Kenongo, kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo. Tugas ini mengantarkannya kembali setelah lumpur menyembur, menggenangi beberapa desa yang kemudian hilang ditelan gunung api lumpur. Mamuk menelusuri kembali jejak perkampungan yang pernah ia kunjungi sebelumnya, di kecamatan Tanggulangin, Porong dan Jabon.

Dalam kesempatan bincang buku Tanah yang Hilang di rangkaian event Bandung Photo Book Show 2016 (5/12), Mamuk menguraikan perjalanan menyusun buku, tidak lebih dari upaya untuk memelihara ingatan, bahwa bencana alam selalu terkait dengan ulah manusia.

Buku dengan didisain persis seperti bentuk surat tanah, dengan ukuran 20 x 30 cm, dicetak di atas kertas art papper tanpa dijilid. Konsep demikian mengingatkan dengan monograf surat dokumen tanah, lengkap dengan redaksi keterangan kepemilikan dan denah lokasi. Terbagi menjadi dua segmen, satu segmen berupa karya foto; dipilih berdasarkan susunan gambar yang mendeskripsikan suasana wilayah yang tergenang lumpur, dan pembacaan-pembacaan simbol. Sedangkan di segmen berikutnya, dikelompok terpisah yaitu tulisan pengantar.

Menurut Mamuk, sebaiknya dalam penggarapan buku, fotografer harus tahu kapasitasnya, karena munculnya gunung lumpur ini sangat teknis. Sebaiknya tidak menyimpulkan atau bahkan membuat statemen yang belum tentu diterima banyak orang, karena peristiwa bencana inipun belum bisa dipastikan oleh faktor apa.

Tanah yang Hilang mengingatkan kembali bagaimana alam mampu menelan jaman, karena ulah manusia itu sendiri menyebabkan 60 ribu lebih orang kehilangan tempat tinggalnya. Ingatan kolektif tersebut biasanya ditiadakan karena keberadaanya tidak menyenangkan, kemudian hilang. (Deni Sugandi)

Uncategorized

UJIKOM 29-30 NOVEMBER 2016

Peluang bagi pelaku profesi fotografi untuk bersertifikat secara gratis. Diselenggarakan oleh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan Lembaga Sertifikasi Kompetensi Fotografi Indonesia (Leskofi) yang akan diselenggarakan di Bandung, 29-30 November 2016.

Dipersyaratkan untuk mengikuti praiuji kompetensi yang akan diselenggarakan oleh Pengda/Pengcap APFI di beberapa kota, silahkan untuk konfirmasi segera:

1. APFI Pengda Jatim, 18-19 November 2016. Info: Surabaya 082139748567(Rizal), Madiun 0816564345(Puguh), Ponorogo 08523398024(Abdul Gofur), Jember 085236444999 (mas AP), dan Pasuruan 081233155612(Agus Taufik). Sekretariat APFI Pengda Jatim: Jl. Manyar Kartika VII/72, Surabaya 60118. Tlp. 081515233432 (Humas).

2. APFI Pengda Jabar, 18-19 November 2016. Hubungi: Yosa Fiandra 088809746665 atau Nugroho Isryanto (Nunu) 08122039484. sekretariat APFI Pengda Jabar, Jl. Ciumbeuleuit 22, Gedung Pondok Lensa Lantai 3. 08122142029.
Jadwal pretest jumat jam 14.00 di studio anginphotoschool, gedung pondoklensa lantai 3 jl ciumbuleuit 22.
Sabtu jam 13.00 di aula Telkom lantai 5, fakultas industri kreatif.

3. APFI Pengda Lampung, pendaftaran 12-18 November 2016, pelaksanaan pra-uji 19 November 2016, di di TUK SCP Jl. Bunga sedap malam raya no 79 Perumnas way kandis. Tanjung senang. Bandar Lampung. Hub. 081366425825 Simon Abdurrahman.

Peserta lolos pra-uji akan diikutsertakan uji kompetensi di Bandung, 29-30 November 2016.Informasi berkaitan seputar sertifikasi kompetensi fotografi bisa dilihat di: Leskofi

Uncategorized

Pelatihan Fotografi Tema Transparan

whatsapp-image-2016-11-08-at-8-59-38-pm

whatsapp-image-2016-11-08-at-8-59-25-pm

whatsapp-image-2016-11-08-at-8-58-41-pmKegiatan pelatihan fotografi mingguan bersama instruktur Ade Yolvi, yang diselenggarakan oleh Pengurus Daerah Sumatera Selatan. Dalam kegiatan ini ditujukan khsusu bagi anggota APFI yang telah mengikuti pre-test atau uji kompetensi fotografi di Palembang. Dilaksanakan di Food Station, Jalan Cipto Simpang 4 KT Masjid Taqwa, kota Palembang. Pelatihan ini merupakan upaya pengurus Pengda Sumsel, untuk memberikan keterampilan dan sarana silahturahmi sesama anggota asosiasi.

Uncategorized

Uji Kompetensi Makassar

Telah dilakukan Uji Kompetensi (Ujikom) bidang kompetensi fotografi di Grand Clarion, Makassar (12/10, 2016). Ujikom ini merupakan rangkaian kerja sama antara Leskofi dan Bekraf ke-4 setelah Surabaya, Palembang dan di Padang. Ujian sertifikasi ini diikuti oleh 100 peserta yang telah mengikuti seleksi melalui pre-test oleh peserta dari Makassar, Jayapura, Biak, Bogor, Surabaya, Palu dan Toraja. Hingga kini telah lahir 300 orang yang telah memiliki sertifikat untuk level 3. Sertifikat ini menjadi syarat umum yang harus disertakan untuk mengerjakan jasa pemotretan, untuk pekerjaan yang dibiayai negara.

Ujikom dibuka oleh Sabartua Tampubolon dari Bekraf, kemudian dilanjutkan materi bimbingan teknis berkaitan dengan soal-soal yang akan diujikan. Bentuk ujian dibagi dalam dua sesi, materi dan ujian praktek.

Uncategorized

Catatan Dari Mari Ngobrol Sambil Ngopi

Beberapa Hasil Dan Kesimpulan Dari Acara Kegiatan Apfi Riau Yang Bertajuk ” Mari Ngobrol Sambil Ngopi” Yang Diselenggararakan Pada Selasa | 23 Februari 2016 Bertempat di PBJ Foodtrack Jl. Tiung No. 11 Sukajadi Pekanbaru Riau, adalah :
Point 1)
APFI tetap menjadi Wadah Untuk Mempersatukan Photographer Indonesia dan dituntut harus selalu memberikan yang terbaik bagi seluruh anggota yang tergabung didalamnya.
Saya memantau perkembangan saat ini bahwa : Selain Kejar Tayang Ujian Level 3 Uji Kompetensi SKKNI, kita lupa bahwa ada tugas lain yang lebih penting dari ini. Misal : Kesiapan Diri dan Mental yang perlu harus dibina dan di asah kembali. Bukan ada Info Ujian SKKNi, siapkan Uang langsung Kejar ke Daerah.
Point 2)
APFI harus tetap mengusahakan untuk memfasilitasi anggotanya dalam hal perlindungan dibidang hukum dan advokasi semisal adanya copy paste karya anggotanya oleh pihak tertentu yg tidak bertanggung jawab atau terjadinya sengketa atau persaingan yg tidak sehat dgn pihak lain (asosiasi, komunitas dan group yg non APFI tapi tetap dibidang Fotografi).
Point 3)
Beberapa masalah disekitar Kita dibidang kesejahteraan anggota. APFI Diharapkan punya terobosan baru yang bisa difikirkan bersama yaitu tentang proteksi diri melalui kerjasama asuransi. Mencakup kesalahan kerja dan kerusakan peralatan. Misal : Event2 Negara yang menimbulkan masalah internal (penyerangan dan pemukulan) yg melibatkan APFI sehingga menimbulkan korban jiwa dipihak kita.
Point 4)
Dari mas Onggo Ikj :
Didunia yg sedang berkembang tehnologinya ini apalgi kita saat ini sdg menjalankan MEA 2016 ini. Diharapkan APFI tidak lagi selalu mempertanyakan pertanyaan bodoh tentang “peluang” tetapi “bagaimana kita bisa menciptakan peluang” terlebih dengan adanya leskofi dan APFI yang seharusnya jg dapat memikirkan fasilitasinya.
Bagaimana contohnya ?:
Setiap akan diadakan Seminar Photografi, berfikirlah lebih jeli lagi untuk mengembangkan dan mensosialisasikan misi kita, dimana : FOTOGRAFER DITUNTUT JANGAN PERNAH LAGI DUDUK SATU MEJA DENGAN SESAMA FOTOGRAFER, mengapa?
Karna ilmunya dan misinya bakalan disitu situ ajah. Ilmu Foto memang bakalan bertambah terus tetapi misi kita untuk mengarah ke beberapa customers tidak akan kesampaian. Maka dari itu : jika ingin merambah ke dunia politik pembicara harus orang politik, mau menuju dunia perminyakan maka pembicara harus orang the best of minyak pula. Hahaa
Point 5)
Berikan juga fasilitas dari APFI untuk mencoba memikirkan terobosan apa yang bisa kita jual hasil karya dari anggota Kita untuk Luar Negeri sono imbuh mas onggo lagi.
Ubah website yang ada dengan memakai beberapa bahasa indonesia, inggris, Arab, Spain bahkan cina dan Jepang.
Atau
Bikin sub domain yang berisi hasil karya terbaik anak negeri atau hasil kompetisi khusus anggota APFI se Indonesia yg terupdate dati bulan ke bulan dengan berbagai macam sesi lomba pemotretan yang selalu terbaru. Dan disanalah berkemungkinan ada peluang kita utk mengangkat APFI dan Anggotanya.
Inilah beberapa kesimpulan hasil acara kegiatan ini. Semoga bermanfaat bagi kemajuan APFI diseluruh Indonesia.

Uncategorized

Temu Buku Solo

Mari bergabung dalam acara TEMU BUKU SOLO

Temu Buku Solo ini merupakan kegiatan perpustakaan sukarela yang diharapkan menjadi ajang pertemuan para penyuka buku foto dan penggemar fotografi di Kota Solo. Kegiatan ini diselenggarakan secara mandiri oleh tiga orang diantaranya: Pandji Vasco , Taufan Wijaya dan Maulana Surya Tri Utama serta didukung kepanitian oleh sekelompok fotografer yang tergabung dalam Garasi N11. Dalam Temu Buku Solo akan dipajang aneka ragam buku fotografi, mulai dari buku foto karya fotografer Indonesia dan Internasional, buku teks tentang fotografi, juga katalog-katalog fotografi terbitan dalam dan luar negeri. Sebagian buku merupakan buku koleksi tua dan sebagian lainnya diterbitkan terbatas oleh fotografernya atau hanya diterbitkan di luar negeri. Koleksi-koleksi yang disebutkan tersebut dapat dilihat dan dibaca oleh perserta lain juga pengunjung umum. Sehingga dapat terwujud banyak obrolan fotografi atau diskusi tema umum yang terpantik oleh suatu wacana foto.

Diskusi Fotografi

Kegiatan Temu Buku Solo akan diisi dengan diskusi fotografi dan bedah buku foto, selain juga perpustakaan sukarela sebagai inti acaranya. Penjualan buku fotografi juga akan menjadi kemasan dalam acara ini. Bahkan, panitia juga mempersilahkan bagi para fotografer yang telah menghasilkan buku foto untuk menjual karya mereka dalam acara Temu Buku Solo (bisa menghubungi panitia).

Temu Buku Solo juga diharapkan dapat menjadi kegiatan awal dari terjalinnya silaturahmi antarkomunitas fotografi di Kota Solo, baik itu pehobi fotografi, wartawan foto, fotografer komersial, fotografer studio, seniman foto, hingga komunitas fotografi mahasiswa. Silaturahmi antarkomunitas fotografi yang kuat diharapkan dapat lebih berperan untuk mendukung perkembangan Kota Solo yang kental akan nuansa keragaman seni dan budaya dalam pesatnya perkembangan global.

Kegiatan TEMU BUKU SOLO
Tempat: N11 Garasi Studio, Jl. NIAS 3 No. 11, Ngemplak, Banjarsari. Solo.
Waktu: 30-31 Oktober 2015 (buka setiap pukul 13.00 WIB hingga 20.00 WIB)
Diskusi Foto dan Bedah Buku Foto: Informasi Menyusul

*NB: Kegiatan ini rencananya akan digelar rutin pada tiap akhir bulan

Uncategorized

Seputar Uji Kompetensi

Berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku di negara Indonesia kita ini, (UU 20/2003; UU 14/2005; UU 12/2012; UU 3/2014; PP sekian sekian sekian…) pengakuan kompetensi seseorang dilakukan melalui ujian atau sertifikasi. Lembaga yang bertanggungjawab dan berwenang melaksanakan ujian tersebut harus berada di bawah Organisasi/Asosiasi Profesi.
Alhamdulillah bidang fotografi Indonesia telah memiliki Asosiasi Profesi Fotografi Indonesia (APFI), yang telah memiliki Pengurus, Anggota, AD ART, Akta Notaris, hingga Lembar Pengakuan dari Kemenkumham RI. Dari beberapa kegiatan, APFI telah bertatap muka dengan rekan pelaku fotografi dari 23 Provinsi, termasuk dari Papua, dan si bungsu Kalimantan Utara. Hingga hari ini, APFI telah memiliki 7 Pengda (1 Jawa Barat, 2 Jambi, 3 Riau, 4 NTB, 5 Lampung, 6 Sumsel, dan 7 Sulsel). Info terbaru dari Banjarmasin, telah dibentuk tim inisiasi untuk pembentukan Pengda Kalsel.
Untuk mewujudkan salah satu misinya, APFI telah membentuk tim pendirian Lembaga Sertifikasi Kompetensi Fotografi Indonesia (disingkat LESKOFI). Beberapa dokumen pun telah diserahkan kepada Kementerian terkait untuk dibuatkan SK-nya. APFI dan LESKOFI telah melakukan beberapa pertemuan dengan lembaga negara, salah satunya Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF), untuk bersilaturahim dan menyosialisasikan APFI dan LESKOFI. Pihak BEKRAF siap membantu, mengarahkan, dan mendukung kemajuan APFI dan LESKOFI. BEKRAF juga berharap APFI dan LESKOFI bisa menjadi contoh untuk bidang profesi lain yang akan merintis asosiasi dan lembaga sertifikasi, serta upaya melakukan peningkatan kualitas SDM di bidang masing-masing.
Sesuai Peraturan Pemerintah, di Indonesia hanya ada 1 lembaga sertifikasi untuk tiap bidang usaha/profesi yang terdata dalam buku Kualifikasi Baku Lapangan Usaha (KBLU). Nantinya akan ada minimal 1 Tempat Uji Kompetensi (TUK) di setiap kota. Memang ada beberapa bidang usaha/profesi yang telaf memiliki lebih dari 1 lembaga sertifikasi. Situasi ini semata-mata dikarenakan sebelum tahun 2012, Indonesia belum meniliki Kerangka Kualifikasi Nasional. Oleh sebab itu ada beberapa bidang yang membuat standar kompetensi kerja yang berbeda.
Melalui UU 12/2012, dan PP 8/2012, telah ditetapkan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), yang terdiri dari 9 level. Level kompetensi ini bertujuan untuk membuat kesetaraan di berbagai bidang profesi di Indonesia. Apapun jalur pendidikannya, nonformal (kursus dan pelatihan) dan informal (otodidak), maupun pendidikan formal, semua bisa disetarakan melalui KKNI. Hal ini dimungkinkan karena di dalam KKNI menganut Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL, atau Recognition of Prior Learning) dari jalur pendidikan manapun.
Dalam waktu dekat ini akan terjadi pertemuan antara beberapa Kementerian terkait (Kemnaker, Kemdikbud, dll) dengan beberapa badan sertifikasi/standarisasi nasional di Indonesia (Badan Nasional Sertifikasi Profesi/BNSP, Badan Standarisasi Nasional Pendidikan/BSNP, dan badan lainnya), Tujuannya untuk menerapkan dengan sungguh-sungguh KKNI, agar bisa meminimalisir standar ganda untuk kompetensi profesi di berbagai bidang kerja di Indonesia.
Dari deskripsi 9 level yang ada di dalam KKNI, APFI telah menyusun 2 SKKNI (Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia), sesuai Permenakertrans (saya lupa nomer dan tahunnya), yaitu untuk Level 3 (setara Diploma 1) dan Level 5 (setara Diploma 3). Saat ini SKKNI Bidang Forografi telah di-SK-kan oleh Menaker.
Dari SKKNI, diadaptasi menjadi Materi Uji Kompetensi (MUK). Draft-nya adalah yang digunakan pada kegiatan Pembekalan dan Ujian untuk Calon Penguji Lembaga Sertifikasi, pertengahan Mei yang lalu di Ungaran, Kab.Semarang. Saat ini draft MUK tersebut sedang dalam tahap verifikasi.
Informasi lain yang tidak kalah menarik, di Indonesia ada 7 kampus pendidikan tinggi formal yang memiliki Program Studi Fotografi (6 S1, 1 D3). Perwakilan dari ketujuh kampus tersebut terlibat dalam perumusan SKKNI bidang fotografi sejak April tahun 2014. Beberapa pertemuan dalam kegiatan perumusan SKKNI tersebut dimanfaatkan untuk membentuk Asosiasi Prodi Fotografi Indonesia. Pada Januari 2015, akhirnya dideklarasikan pendiriannya dengan nama SOFIA. Tugas pertama SOFIA adalah mengadaptasi SKKNI dan juga KKNI ke dalam draft Kurikulum Nasional prodi Fotografi Indonesia. Tahun ini, hampir semua anggota SOFIA akan dan harus melakukan pemutakhiran kurikulum agar sesuai dengan deskripsi KKNI level 5 (setara D3) dan level 6 (setara D4/S1).

Semoga keharmonisan ini janganlah cepat berakhir….. Demi fotografi Indonesia di tanah air, dan AsTeng, dan Asia, dan dunia!