Uncategorized

Mamuk Memelihara Ingatan

Catatan dari bincang buku Tanah yang Hilang, Mamuk Ismuntoro

Pria bersahaja ini saya kenal awal 2002 di Surabaya, ketika ia duduk sebagai pewarta foto di majalah seni Mossaik. Setelah itu bekerja untuk editor foto Surabaya Post. memulai karir jurnalistiknya setelah menamatkan di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi  – Almamateri Wartawan Surabaya (Stikosa – AWS). Setelah itu kemudian menjadi pewarta foto selama lima tahun, kemudian memutuskan untuk berkegiatan dokumenter. 2006 mendirikan komunitas Matanesia, diantaranya memiliki program buku fotografi dan diskusi.

Melalui PanaFoto Institute, melahirkan buku foto ke-tiga Tanah yang Hilang (2014). Buku yang memuat korban Lumpur Sidoarjo ini, dikisahkan dengan apik melalui garapan bersama. Kesempatan menyusun buku ini hadir saat 2005 ia bertugas meliput perajin perak di desa Reno Kenongo, kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo. Tugas ini mengantarkannya kembali setelah lumpur menyembur, menggenangi beberapa desa yang kemudian hilang ditelan gunung api lumpur. Mamuk menelusuri kembali jejak perkampungan yang pernah ia kunjungi sebelumnya, di kecamatan Tanggulangin, Porong dan Jabon.

Dalam kesempatan bincang buku Tanah yang Hilang di rangkaian event Bandung Photo Book Show 2016 (5/12), Mamuk menguraikan perjalanan menyusun buku, tidak lebih dari upaya untuk memelihara ingatan, bahwa bencana alam selalu terkait dengan ulah manusia.

Buku dengan didisain persis seperti bentuk surat tanah, dengan ukuran 20 x 30 cm, dicetak di atas kertas art papper tanpa dijilid. Konsep demikian mengingatkan dengan monograf surat dokumen tanah, lengkap dengan redaksi keterangan kepemilikan dan denah lokasi. Terbagi menjadi dua segmen, satu segmen berupa karya foto; dipilih berdasarkan susunan gambar yang mendeskripsikan suasana wilayah yang tergenang lumpur, dan pembacaan-pembacaan simbol. Sedangkan di segmen berikutnya, dikelompok terpisah yaitu tulisan pengantar.

Menurut Mamuk, sebaiknya dalam penggarapan buku, fotografer harus tahu kapasitasnya, karena munculnya gunung lumpur ini sangat teknis. Sebaiknya tidak menyimpulkan atau bahkan membuat statemen yang belum tentu diterima banyak orang, karena peristiwa bencana inipun belum bisa dipastikan oleh faktor apa.

Tanah yang Hilang mengingatkan kembali bagaimana alam mampu menelan jaman, karena ulah manusia itu sendiri menyebabkan 60 ribu lebih orang kehilangan tempat tinggalnya. Ingatan kolektif tersebut biasanya ditiadakan karena keberadaanya tidak menyenangkan, kemudian hilang. (Deni Sugandi)

Uncategorized

Rumpang Dalam Rumpi

Catatan bincang buku Rumpang, Ully Zoelkarnain.

Dalam pemotretan feysen, ada saat-saatnya kamera dijepretkan hanya sekedar untuk mengukur tata cahaya, atau momen yang disusun oleh bingkai-bingkai hingga mendapatkan pilihan terbaik. Teknik ini biasa ditemui untuk pemotretan feysen hingga produk, beberapa bingkai dibuang untuk mendapatkan tata cahaya, sudut dan momen terbaik. Dari sekian ratusan hingga ribuan foto “gagal” ini kemudian dirangkai dan dimaknai melalui kompilasi album foto, buku disebut Rumpang.

Rumpang dalam dedaring Kamus Besar Bahas Indonesia berarti sela (selang waktu, berhenti sebentar, dan sebagainya). Waktu jeda inilah menjadi pintu masuk Ully Zoelkarnain, memainkan foto sampah, kemudian menjadi rangkaian kreatif. “dalam profesi saya, harus menghasilkan karya foto yang sempurna” jelas Ully, namun di sisi lain selalu saja ada yang menggelitiknya, bahwa foto jauh dari sempurna tersebut merupakan rangkaian menuju sempurna. Boleh dikatakan, bila tidak ada karya rumpang ini, maka tidaklah ada karya sempurna pilihan konsumen. Ully mengatakan bahwa kecenderungan konsumen saat, memilih foto yang disebut astra atau disebut juga “asal terang”. Dengan demikian tantangan profesi fotografi feysen semakin terpuruk, karena visi dan kreasinya dihargai nilai ekspresi terendah, astra tadi.

Astra menjadi pintu masuk bagi Ully untuk membuka kembali foto-foto sampah, kemudian disusun bersama editor, untuk melihat kembali rangkain proses menuju sempurna yang sering diabaikan. Dalam pemilihan fotopun diserahkan kepada pihak editor, namun itupun kary-karya relatif baru, karena karya sebelumnya hilang bersama rusaknya beberapa hardisk. Kesadaran digital asset management menjadi penting bagi pelaku fotografi profesioal. Kini para profesioan cenderung membuang karya yang dianggap tidak sempurna, dan karya pilihan konsumenlah yang disimpan.

Foto-foto yang ditampilkan jauh dari sempurna, bahkan ada satu halaman memuat foto yang “gagal” perekaman, menampakan layer warna saling bertumpuk. Terjadi karena proses perekaman kamera yang belum sempurna. Ully menggunakan kamera format medium mekaknik film, kemudian menggunakan digital back. Jenis hybrid inilah ia sering menemui kegagalan proses transfer file, karena buffer memory tidak mencukupi. Bentuk rupa seperti ini menjadi salah satu ciri penyusunan buku Rumpang, bahwa kesempurnaan dibangun oleh proses panjang ketidak sempurnaan. Buku ini dipublikasi umum, melalui distribusi self publishing, dibandrol harga dua ratus ribu rupiah.

Ully menekuni fotografi feysen sejak 2006, selepas bekerja sebagai karyawan perusahaan publikasi nasional, yang menerbitkan satu-satunya majalah fotografi Foto Media. Selepas itu belajar menekuni fotografi komersial, hingga menguhkan hatinya terjun total sebagai profesional fotografer untuk kebutuhan editorial dan feysen. Pernah bergabug di The Loop, mengerjakan SOAP Magazine, a+ Magazine, dan ini memiliki managemen sendiri di The Group, dan ulzphotography. (denisugandi)