Lokakarya

Workshop Sukses di Fotografi Komersial

Bincang Fotografi “Sukses di Dunia Fotografi Komersial”

Mengupas seluk beluk dunia profesi fotografi komersial; pemotretan produk, pengerjaan iklan, dan publikasi editorial. Bagiamana menempatkan diri sebagai profesional fotografer yang memiliki keterampilan, wawasan pengetahuan, dan sikap kerja (Skill, Knowledge and Attidute), di dunia kerja bidang fotografi komersial.

Disampaikan oleh profesional fotografer Roy Genggam. Praktisi dunia komersial fotografi yang akan membagikan pengalamanya; bersikap dan “treatmen” serta trik-trik jitu mengelola pemotretan komersial.

Hari/tanggal:
Sabtu, 16 September 2017

Waktu
Pkl. 13.00-17.000 WIB.

Venue
Foodstep Parahyangan Residence

Investasi:
Member APFI (free), memperlihatkan no anggota.
Umum: Rp. 30.000.,

Info:
08122039484 Nugroho
08122119122 Wirawan

Lokakarya

PANTOGRAFI ANTI PANDIR




Pandiran dalam bahasa Banjar (Banjarmasin) berarti duduk bersama-sama membicarakan sesuatu melalui obrolan. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata dasar pandir berarti bodoh. Mungkin dalam diskusi ini para “pandir” tersebut membutuhkan informasi yang tujuannya tidak lagi tetap bodoh, namun mengais ilmu fotografi bersama-sama. “Hidup adalah berbagi” kurang lebih begitu.

Bertempat di kedai makan Sambal ARB, Kayutangi di kota Banjarmasin (23/5, 2015), pandiran ini diselenggarakan dalam momentum sejarah kelam kota Banjarmasin. Tragedi 23 Mei 1997 tentang kerusuhan pemilu nasional yang bermuatan SARA. Diinisiasi oleh Pengurus Daerah APFI Kalimantan Selatan, dengan tajuk PANTOGRAFI singkatan dari Pandiran Fotografi. Tujuan dari pertemuan ini adalah mewadahi potensi teknis dan wawasan fotografi, untuk menunjang profesi fotografi anggota APFI PENGDA KALSEL. Diberikan melalui cara peragaan, dengan tema “Simply Lighting” atau pemotretan menggunakan tata cahaya sederhana.

Materi disampaikan oleh Abdie Ridho dan kawan-kawan di pengurus APFI PENGDA KALSEL, mengenai pemanfaatan tata cahaya sederhana, dengan menggunakan satu sumber cahaya buatan. Penyampaian teknis dilanjutkan dengan materi pemanfaatan menggunakan sumber cahaya lampu kilat. Dikenal juga dengan speedlight digunakan untuk tata cahaya mix lighting. Materi sangat bermanfaat bagi partisipan yang hadir, selain diberikan berdasarkan pengalaman, juga menjadi wawasan baru bagi yang belum mengetahui.

Di penutup acara pengurus mendistribusikan sertifikan kompetensi fotografi, kepada para peserta yang mengikuti uji kompetensi di kota Banjarmasin bulan Maret lalu.

Uncategorized

(Buku) KESAKSIAN SAD

Suku Kubu atau juga dikenal dengan Suku Anak Dalam atau Orang Rimba adalah salah satu suku bangsa minoritas yang hidup di Pulau Sumatra, tepatnya di Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan. Mereka mayoritas hidup di provinsi Jambi, dengan perkiraan jumlah populasi sekitar 200.000 orang. Menurut tradisi lisan suku Anak Dalam merupakan orang Maalau Sesat, yang m lari ke hutan rimba di sekitar Air Hitam, Taman Nasional Bukit Duabelas. Mereka kemudian dinamakan Moyang Segayo. Tradisi lain menyebutkan mereka berasal dari Pagaruyung, yang mengungsi ke Jambi. Ini diperkuat kenyataan adat suku Anak Dalam punya kesamaan bahasa dan adat dengan suku Minangkabau, seperti sistem matrilineal (sumber: Wikipedia).

Karya Yudhi Nopriyadi anggota ASOSIASI PROFESI FOTOGAFI INDONESIA/APFI Pengda JAMBI, yang menyoal budaya Suku Anak Dalam, tradisi Orang Rimba sub kultur di Jambi ini menjadi bingkai cerita, yang digulirkan dalam catatan visual dokumenter, dengan gaya tutur visual reportase. Buku bisa dimiliki dengan cara Pre-order (permintaan khusus), dengan cara melayangkan permintaan ke: 085727082121

Uncategorized

(RATAGALING) Perpustakaan Keliling di Pangkalpinang Bangka

Ratagaling atau Roadshow Pustaka Keliling Fotografi, yang digagas Bidang Litbang APFI Pusat, Sdr. Wahyu Dhian tiba di perjalanan pertama. Bertempat di Latrasse, Pangkalpinang, Bangka-Belitung. Dihadiri komunitas, pecinta fotogafi dan mahasiswa di sekitar kota. Pustaka keliling ini termasuk sangat langka, apalagi berkaitan dengan materi fotografi. Lawatan ini dalam tujuan sosialisasi melek membaca, juga sekaligus silaturahmi ke Pengurus Daerah dan Pengurus Cabang APFI di Bangka-Belitung, Sumatera Selatan, dan Lampung. dimulai 2 Maret, hingga 9 Maret 2017 ditutup di kota Lampung.

Uncategorized

ROADSHOW PUSTAKA FOTOGAFI KELILING (RATAGALING)

Dalam rangkaian penutup progam Pengurus APFI Pusat 2014-2017, Bidang Litbang APFI Pusat dan Bidang Humas akan melakukan kegiatan ROADSHOW PERPUSTAKAAN FOTOGRAFI KELILING. Kegiatan ini bertujuan silaturahmi, sosialisasi program publikasi buku fotografi, pengenalan kiat-kiat penyusunan buku fotogafi, diskusi dan silaturahmi antara Pengurus Daerah dan Pengurus Cabang. Roadshow pertama akan melawat ke Pengda Bangka-Belitung (Pangkal Pinang), Pengda Sumatera Selatan (Palembang) dan Pengda Lampung.

Tema kegiatan “Ngelapak & Diskusi Buku Fotografi”, akan hadir tanggal  2 Maret 2017 di  Latrasee Bistro (Pangkalpinang), berlanjut tanggal  3-4 Maret 2017 di Palembang Squere Mall (Palembang), dan perjalanan terakhir tanggal 7 Maret 2017 di Simon Class Of Photography (Lampung).

Uncategorized

(Bincang Buku) Tarung Visual Ci Tarum

(Bincang Buku) TARUNG VISUAL DI CI TARUM
Ci Tarum adalah nadi dari Jawa Barat. Mengalir 300 km dari lereng gunung api purba Bandung Selatan, hinngga bermuara mendekati ibu kota , di pantai utara Jawa Barat. Air yang mengalir tersebut membawa berita tetang elegi suram, hingga sumber penghidupan bagi masyarakat yang menggantungkan nasibnya pa Ci Tarum. Frans Ari Prasetyo menghadirkan penggalan persoalan ini melalui eksplorasi matanya, sebentuk kesaksian visual mengupas kisah air dan warga Kecamatan Andir di Kabupaten Bandung. Warga Desa Rancamanyar ini sehari-harinya bersentuhan langsung dengan Ci Tarum, sehinggamereka memiliki identitasnya sendiri. Mari kita kupas langlang mata narasi perjalanan hidup masyarakatnya, melalui bingkai-bingkai foto sebagai saksi.

Mengundang sahabat perambah visual fotografi, hadir acara bulanan ASIK SORE = APFI (Jabar) Berdiskusi Sore.

Hari/Tanggal: Jumat, 3 Maret 2017
Waktu: 17.00 sd. 18.30 WIB
Venue : Angin photoschool,
Jln Ciumbuleuit no.22 Gedung Pondok Lensa Lt.3

ASIK SORE
Adalah program bulanan APFI Pengda Jabar, dalam upaya menggairahkan anggota APFI dan pecinta fotografi. Dilaksanakan berkala satu bulan sekali, dengan tema dan topik yang berbeda-beda. Tujuannya adalah bersilaturahmi, saling berbagi informasi dan pengalaman seputar fotografi sebagai hobi, minat khusus dan profesi. Kegiatan terbuka untuk umum dan tidak berbayar. Konfirmasi kehadiran: Ines 089688568988

Uncategorized

Mendengarkan Telinga Panjang

Catatan dari Bincang buku Telinga Panjang; Mengungkap yang Tersembunyi, karya Ati Bachtiar.

“Apakah benar apa yang saya lakukan membawa manfaat?” guman Ati dalam suatu kesempatan menjelang peluncuran buku Telinga Panjang di acara Bandung Photography Book Show 2016 (3/12). Celoteh itu masih terngiang di telinga saya, seakan-akan tugas ini menjadi beban berat seorang Ati yang nota benenya seorang ibu rumah tangga. Untuk apa seorang ibu dua anak ini berani-beraninya menapaki Kalimantan Timur hingga ke Barat? Padahal suku Dayak telinga panjang tidak meminta dirinya hadir mendokumentasikan. Namun selalu ada gundah dalam diri Ati, sepertiya ada rasa syukur yang ia terjemahkan dalam nazar yang tidak terucap. Menggali kembali keberadaan para pewaris jati diri Apokayan di hulu Mahakam, sebagai warisan dunia. Menyibak selimut misteri keberadaan Hampatong si telinga panjang; mengungkap yang tersembunyi.

***

Kapal perahu kayu itu dipacu melawan arus, sesekali harus tancap gas agar tidak tersangkut batu. Motoris atau sebutan untuk pengendara perahu, harus sigap membaca riak air. Bila air tenang menandakan dalam, namun riak semakin riuh biasanya air sungai dangkal, ditandai bongkah-bongkah batu yang tajam siap merobek lambung perahu bila tidak berhati-hati.

Semakin ke hulu perahu Ketinting ada saat-saatnya menyerah melawan arus Mahakam, terutama bila berhadapan dengan jeram-jeram yang terjal dan dalam. Dalam kondisi seperti ini, penumpang terpaksa harus turun dan memanggul bawaanya, dilanjutkan berjalan kaki melalui tepian sungai, kemudian bertemu kembali di hulu. Menaikan perahu melalui jeram bukan perkara mudah, biasanya dilakukan motoris yang telah berpengalaman dan tahu persis setiap jengkal sungai. Tragedi pernah merengut motoris dan penumpang anggota batalyon 611 yang lenyap ditelan sungai. Untuk memperingati musibah ini, ceruk tersebut dinamani ria 611. Profesi seorang motoris sungguhlah berat, selain bertanggung jawab keselamatan penumpang juga keberlangsungan rumah tangga. Karena istri sering ditinggal berhari-hari, seorang motoris harus menerima nasib sebagai “korsling” atau korban selingkuh.

Bagi suku dayak di hulu, kondisi demikian menjadi santapan sehari-hari, bahkan dianggap biasa. Aliran sungai yang diarungi biasanya akan semakin dangkal dan berbatu bila mendekati hulu. Daerah Aliran Sungai yang membentang 980 km, bermuara di Kutai Barat, melintasi Kutai Kartanegara, dan bermuara di Samarinda merupakan jalur lalu lintas penting yang menghubungkan hulu ke muara, sebagai jalur perdagangan dan kegitan sosial.

Perjalanan yang melelahkan dan berbahaya ini menjadi menu harian Ruh Hayati, atau biasa dipanggi Ati Bachtiar. Seorang ibu rumah tangga yang membulatkan tekad, mendokumentasikan komunitas telinga panjang, di hulu Mahakam, Kalimantan Timur, sebagian di Kalimantan Utara dan Kalimantan Barat yang dirangkai dalam tiga kali kunjungan. Kedatangan pertama di bulan Maret, kemudian dilanjutkan Mei 2016. Penyusunan buku ini bukan perkara mudah, karena sebelumnya telah ditata dalam bentuk perencanaan, pencarian data literatur, konsultasi, hingga pemotretan langsung ke lapangan. Mungkin ribuan bingkai yang telah di koleksi oleh Ati, mengenai keberadaan telinga panjang, baik itu terkait langsung dengan mereka, hingga situasi dan kondisi komunitas mereka tinggal. Garapan awal yang hendak disajikan dalam buku ini adalah menggunakan pendekatan portrait, namun seiring dengan perjalanan waktu, konsep tersebut kemudian berganti muatan yang lebih umum menjadi kompilasi aktivitas dan makna ritual yang tertuangkan dalam upacara budaya, ritus suku Dayak.

Kisah petualangan ibu rumah tangga ini terbayarkan, dalam bentuk buku Telinga Panjang; Mengungkap yang Tersembunyi. Buku yang disusun sebulan setelah pemotretan terbilang sangat singkat, dan tanpa jeda. Disusun oleh sang suami tercinta Ray Bachtiar, bertugas memilih foto dan merangkaikan menjadi kisah yang seperti tersaji seperti di dalam buku berdimensi 23 x 23 cm. Kemudian untuk perbaikan redaksi diraut oleh Seno Gumira Adjidarma. Terbit pertama kali tanpa nomor ISBN, bulan November 2016.

Struktur penulisan buku ini dasarnya disusun oleh Ati, kemudian dibagi menjadi tujuh bagian dalam pembabakan cerita. Fragmen-fragmen tersebut menceritakan secara runut sebelum, saat proses pendokumentasian, hingga persoalan-persoalan yang perlahan tersingkap. Dalam fragmen pertama mengisahkan awal mula dan alasan mendokumentasikan, hingga menemui beberapa masalah yang ditemui di lapangan. Informasi tersebut terbuka secara perlahan, seiring dengan penggalian informasi dari subyek melalaui metode wawancara dan pengambilan foto. Pendekatan yang digunakan Ati Bachtiar dilakukan dengan perbincangan, tanpa harus memotret terlebih dahulu. Ati menceritaka bahwa untuk memotret sang telinga panjang tidaklah mudah, karena keberadaannya di ladang pada hari kerja, bukan di desa. Tantangan berikutnya adalah para telinga panjang ini sebagian menentukan tarif untuk difoto. “Kalau pake fitur burst di kamera, tetap saja harus dihapus” ungkap Ati. Dengan demikian strategi pendekatannya yaitu dengan negosiasi melalui obrolan. Mungkin inilah keunggulan fotografer perempuan, karena bisa lebih mendekatkan dirinya dengan subyek, sehingga batas formal biasanya terbuka leluasa.

Fragmen ke dua mengupas tentang kesaksian migrasi suku Kenyah Apokayan, yang diceritakan oleh Pui Panyan (106 tahun) dari suku Dayak Kenyah Lepoq Jalan. Ia kehilangan kaki kanannya saat migrasi karena sebilah kapak menimpa kakinya. Selain itu Ati berkesempatan menyaksikan proses tanam padi di hutan ladang yang baru dibuka. Pola tanam tradisional yang masih dilakukan di sebagian suku Dayak, masih menggunakan panduan kalendar alam. Kegiatan menugal atau menanam biasanya dilakukan secara gotong royong. Di fragmen ke tiga diceritakan kegiatan piknik di sela-sela menugal atau setelah kegiatan tanam di ladang. Di kisah selanjutnya Ati dinyatakan sebagai anak angkat Christina Yek Lawing (67 tahun) dari suku Bahau, melalui prosesi adat yang singkat. Gelar yang didapatnya adalah sebutan Buaq yang berarti buah-buahan. Dari ibu angkat inilah mengalir cerita tentang persengketaan masyarakat adat Long Isun. Tanah adat seluar 80 hektar bersinggungan langsung dengan perusahaan besar pemilih HPH.

Berikutnya di fragmen ke-empat mengisahkan di upacara ritual Dayak, disebut Ritual adat Pakenong Tawai di Datah Bilang Ilir. Upacara ini merupakan ucap rasa syukur kepada yang Maha Kuasa, ditandai dengan kegiatan festival tari, paduan suara, hingga aktivitas lainya. Puncak acara ditutup dengan pencanangan Belawing Desa, yang sebelumnya dipasang 1975 pada masa orde lama. Dalam rangkaian upacara tersebut disertakan juga upacara Hudoq Pekayang dan Upacara Uman Undrat. Fungsi dan peran telinga panjang di ungkap di fragmen ke-lima. Ati merangkaikan cerita mengenai arti kecantikan bagi suku Kenyah Umaq Bakung. Termasuk proses pembentukan telinga menjadi panjang, yang membutuhkan kesabaran bertahun-tahun, kemudian berperan sebagai penanda status sosial. Selain memanjangkan telinga, di suku Bahau dan Kenyah dikenal juga seni rajah. Rajah-rajah tersebut sebagai penanda tingkatan status sosial sebagai bangsawan. Informasi hasil penelusuran Ati, mencatatkan kurang lebih 43 orang yang masih bertahan, bertelinga panjang. Alasan malu dan kurang percaya diri menjadi alasan kenapa sebagian telinga panjang harus memotong daun telingannya, agar bisa diterima di kalangan masyarakat modern. Ati mencatatkan ada 11 orang yang telah memotong daun telingannya di Puskesmas, dengan bantuan medis.

Selain kehidupan dan identitas, Ati mengarahkan lensanya ke tema kematian, saat kunjungan ke Desa Pampang, Samarinda Utara, Kalimantan Timur. Di fragmen ke-tujuh Ati menceritakan bagaimana Kenyah Bakung berduka, mengantarkan salah satu telinga panjang Amai Pejualang Injuk (88 tahun) ke peraduannya terakhir. Secercah harapan masih bisa disaksikan di desa Adat Pampang, ada beberapa generasi penerus yang masih melakoni tradisi, menjadi telinga panjang. Diantaranya Tinen Helen (45 tahun), dan Tinen Luwing (40 tahun) penari di lamin adat desa wisata Pampang.

Kerja dokumentasi ini merupakan catatan penting keberadaan telinga panjang, yang sebelumnya sering luput dari perhatian pemerintah daerah. Beberapa lembaga swadaya masyarakat lokal aktif menyuarakan identitas mereka, tetapi masih dianggap kurang lengkap dalam pendataan visual. Artinya belum ada album fotografi yang faktual mengenai keberadaan mereka saat ini.

Kerja Ati telah membuka wacana tentang identitas budaya yang tergerus pusaran jaman, hilang perlahan karena konstelasi sosial-buaya. Dalam kondisi demikian biasanya pemerintah tidak pernah hadir, tetapi ada di kebijakan-kebijakan yang selalu berpihak kepada kapital besar, atas nama investor yang berwujud kemudahan mengeluarkan izin Kesatuan Pengelolaan Hutan. Semoga melalui jalinan fragmen dalam susunan buku ini, bisa memberikan gambaran luas persoalan identitas kebangsaan, yang kini secara perlahan dikepung oleh ideologi kapitalis, dan dipudarkan secara sistematis dengan cara mengalih fungsikan hutan. Ati Bachtiar telah berjanji kepada para Inay untuk melawan lupa. (Deni Sugandi)

Uncategorized

Mamuk Memelihara Ingatan

Catatan dari bincang buku Tanah yang Hilang, Mamuk Ismuntoro

Pria bersahaja ini saya kenal awal 2002 di Surabaya, ketika ia duduk sebagai pewarta foto di majalah seni Mossaik. Setelah itu bekerja untuk editor foto Surabaya Post. memulai karir jurnalistiknya setelah menamatkan di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi  – Almamateri Wartawan Surabaya (Stikosa – AWS). Setelah itu kemudian menjadi pewarta foto selama lima tahun, kemudian memutuskan untuk berkegiatan dokumenter. 2006 mendirikan komunitas Matanesia, diantaranya memiliki program buku fotografi dan diskusi.

Melalui PanaFoto Institute, melahirkan buku foto ke-tiga Tanah yang Hilang (2014). Buku yang memuat korban Lumpur Sidoarjo ini, dikisahkan dengan apik melalui garapan bersama. Kesempatan menyusun buku ini hadir saat 2005 ia bertugas meliput perajin perak di desa Reno Kenongo, kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo. Tugas ini mengantarkannya kembali setelah lumpur menyembur, menggenangi beberapa desa yang kemudian hilang ditelan gunung api lumpur. Mamuk menelusuri kembali jejak perkampungan yang pernah ia kunjungi sebelumnya, di kecamatan Tanggulangin, Porong dan Jabon.

Dalam kesempatan bincang buku Tanah yang Hilang di rangkaian event Bandung Photo Book Show 2016 (5/12), Mamuk menguraikan perjalanan menyusun buku, tidak lebih dari upaya untuk memelihara ingatan, bahwa bencana alam selalu terkait dengan ulah manusia.

Buku dengan didisain persis seperti bentuk surat tanah, dengan ukuran 20 x 30 cm, dicetak di atas kertas art papper tanpa dijilid. Konsep demikian mengingatkan dengan monograf surat dokumen tanah, lengkap dengan redaksi keterangan kepemilikan dan denah lokasi. Terbagi menjadi dua segmen, satu segmen berupa karya foto; dipilih berdasarkan susunan gambar yang mendeskripsikan suasana wilayah yang tergenang lumpur, dan pembacaan-pembacaan simbol. Sedangkan di segmen berikutnya, dikelompok terpisah yaitu tulisan pengantar.

Menurut Mamuk, sebaiknya dalam penggarapan buku, fotografer harus tahu kapasitasnya, karena munculnya gunung lumpur ini sangat teknis. Sebaiknya tidak menyimpulkan atau bahkan membuat statemen yang belum tentu diterima banyak orang, karena peristiwa bencana inipun belum bisa dipastikan oleh faktor apa.

Tanah yang Hilang mengingatkan kembali bagaimana alam mampu menelan jaman, karena ulah manusia itu sendiri menyebabkan 60 ribu lebih orang kehilangan tempat tinggalnya. Ingatan kolektif tersebut biasanya ditiadakan karena keberadaanya tidak menyenangkan, kemudian hilang. (Deni Sugandi)

Uncategorized

Makna Absurd Visual Diary Ismael

Catatan dari bincang buku Visual Diary 01, karya Anton Ismael

Untuk pertama kalinya, pendiri komersial photo studio Third Eye Space, Anton Ismael menyusun buku. Buku yang sebenarnya penyederhanaan dari kitab-kitab catatan proses kreatifnya, yang ditulis tangan berupa scrap book, potongan-potongan majalah, coretan gagasan hingga susunan foto yang diambil sembarangan. Fragmen-fragmen tulisan tangan tersebut selalu menjadi referensi, kemudian dirangkai menjadi “buku ide”. Rangkaian halaman diisi dengan coret coret yang tidak jelas maknanya, karena begitu sangat personal. Catatan inilah kemudian disusun menjadi modal dasar karya publikasi dengan tema catatan harian berupa visual.

Buku Visual Diary 01, berdimensi 18 x 25 cm, ISBN: 978-602-73797-0-1, diterbitkan oleh Binatang Press, dan menggunakan jalur distribusi indipenden. Dalam buku ini Anton tidak berkeinginan memberikan wacana yang berat, hanya rangkaian gelisah diterjemahkan dalam mix media, sebagai ungkapan ekpresi dirinya dalam berkarya.

Proses kreatif karya, Anton percaya dengan ungkapan out of the box. Bagaimana caranya untuk lepas dari kungkungan, keluar dari pakem yang sudah digariskan oleh norma umum. Pemberontakannya diekspresikan dengan mengahdirkan karya lintas media, antara fotografi ke grafis, hingga teknik kolase. Dititik ini Anton berkehendak untuk menjelaskan kepada publik, bahwa fotografi tidak sanggup lagi menampung visi kreasinya. Tetapi Anton sepertinya lupa, bahwa sebenarnya dalam fotografi komersial di Indonesia tidak ada lingkaran yang mengekang, dicirikan bahwa fotografi itu repetisi-mengulangi dari bentuk umum yang bisa diterima masyarakat. Apapun caranya ia ingin ke luar lingkaran, sebenarnya ia memasuki lingkaran yang baru-lebih besar, lingkaran setan yang tidak berujung.

Penyusunan buku ini suka-suka, bahkan dalam pernyataanya di bincang buku (5/12) konten buku tersebut absurd. Tidak ada makna khusus apalagi bila disandingkan dengan redaksi yang tercantum di buku. Bisa jadi Anton menyusun buku ini sebagai ungkapan ekspresinya, tanpa harus terjebak dengan penyusunan sistematika yang baku. Struktur seperti ini menandakan bentuk penolakan alias anti mapan. Dalam bincang buku Anton mengisahkan upayannya membesarkan infrastruktur fotografi sejak 2006. Dimulau melalui diskusi dan forum belajar Kelas Pagi di studionya, dan kini telah berusia 10 tahun. Menyebar hingga Yogyakarta dan kini merambah ke Jayapura, Papua.

Para alumni sekolah fotografi rakyak (gratis) telah berkiprah di dunia komersial, yang kini duduk diposisi pesaing usahanya. Anton mengerti betul bahwa persaingan akan datang, juga memberikan pilihan kreasi yang lebih beragam dibandingkan sebelumnya. Ia menjelaskan bahwa dalam lingkar kreatif komersial, pasar sangat kuat menentukan siapa yang mampu bertahan di dunia komersial. Bahkan dengan nada sinis ia menegaskan bahwa kini yang bisa bertahan dan diterima pengguna jasa karena; murah, tidak ada pilihan lain, karena hubungan pertemanan atau karena bentuk pekerjaan yang sangat spesifik.Pekerjaan-pekerjaan itulah yang membesarkan Anton Ismael, sebagai amunisi untuk mengembangkan edukasi, memberi dan membuka kesempatan.

Dalam buku ini, Anton melemparkan gagasan kepada para sidang pembaca, tanpa harus memeras otak untuk mengerti. Susunan buku ini menekankan aspek visual sebagai bahasa ungkap, dengan pendekatan gaya kontemporer. Karya fotografi atau bukan, nampaknya Anton tidak begitu peduli, namun ia lebih mempercayai metode rekam fotografi sebagai dasar kreasi yang membebaskan, saatnya rebel!. (Deni Sugandi)

Uncategorized

UJIKOM 29-30 NOVEMBER 2016

Peluang bagi pelaku profesi fotografi untuk bersertifikat secara gratis. Diselenggarakan oleh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan Lembaga Sertifikasi Kompetensi Fotografi Indonesia (Leskofi) yang akan diselenggarakan di Bandung, 29-30 November 2016.

Dipersyaratkan untuk mengikuti praiuji kompetensi yang akan diselenggarakan oleh Pengda/Pengcap APFI di beberapa kota, silahkan untuk konfirmasi segera:

1. APFI Pengda Jatim, 18-19 November 2016. Info: Surabaya 082139748567(Rizal), Madiun 0816564345(Puguh), Ponorogo 08523398024(Abdul Gofur), Jember 085236444999 (mas AP), dan Pasuruan 081233155612(Agus Taufik). Sekretariat APFI Pengda Jatim: Jl. Manyar Kartika VII/72, Surabaya 60118. Tlp. 081515233432 (Humas).

2. APFI Pengda Jabar, 18-19 November 2016. Hubungi: Yosa Fiandra 088809746665 atau Nugroho Isryanto (Nunu) 08122039484. sekretariat APFI Pengda Jabar, Jl. Ciumbeuleuit 22, Gedung Pondok Lensa Lantai 3. 08122142029.
Jadwal pretest jumat jam 14.00 di studio anginphotoschool, gedung pondoklensa lantai 3 jl ciumbuleuit 22.
Sabtu jam 13.00 di aula Telkom lantai 5, fakultas industri kreatif.

3. APFI Pengda Lampung, pendaftaran 12-18 November 2016, pelaksanaan pra-uji 19 November 2016, di di TUK SCP Jl. Bunga sedap malam raya no 79 Perumnas way kandis. Tanjung senang. Bandar Lampung. Hub. 081366425825 Simon Abdurrahman.

Peserta lolos pra-uji akan diikutsertakan uji kompetensi di Bandung, 29-30 November 2016.Informasi berkaitan seputar sertifikasi kompetensi fotografi bisa dilihat di: Leskofi