Uncategorized

Mamuk Memelihara Ingatan

Catatan dari bincang buku Tanah yang Hilang, Mamuk Ismuntoro

Pria bersahaja ini saya kenal awal 2002 di Surabaya, ketika ia duduk sebagai pewarta foto di majalah seni Mossaik. Setelah itu bekerja untuk editor foto Surabaya Post. memulai karir jurnalistiknya setelah menamatkan di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi  – Almamateri Wartawan Surabaya (Stikosa – AWS). Setelah itu kemudian menjadi pewarta foto selama lima tahun, kemudian memutuskan untuk berkegiatan dokumenter. 2006 mendirikan komunitas Matanesia, diantaranya memiliki program buku fotografi dan diskusi.

Melalui PanaFoto Institute, melahirkan buku foto ke-tiga Tanah yang Hilang (2014). Buku yang memuat korban Lumpur Sidoarjo ini, dikisahkan dengan apik melalui garapan bersama. Kesempatan menyusun buku ini hadir saat 2005 ia bertugas meliput perajin perak di desa Reno Kenongo, kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo. Tugas ini mengantarkannya kembali setelah lumpur menyembur, menggenangi beberapa desa yang kemudian hilang ditelan gunung api lumpur. Mamuk menelusuri kembali jejak perkampungan yang pernah ia kunjungi sebelumnya, di kecamatan Tanggulangin, Porong dan Jabon.

Dalam kesempatan bincang buku Tanah yang Hilang di rangkaian event Bandung Photo Book Show 2016 (5/12), Mamuk menguraikan perjalanan menyusun buku, tidak lebih dari upaya untuk memelihara ingatan, bahwa bencana alam selalu terkait dengan ulah manusia.

Buku dengan didisain persis seperti bentuk surat tanah, dengan ukuran 20 x 30 cm, dicetak di atas kertas art papper tanpa dijilid. Konsep demikian mengingatkan dengan monograf surat dokumen tanah, lengkap dengan redaksi keterangan kepemilikan dan denah lokasi. Terbagi menjadi dua segmen, satu segmen berupa karya foto; dipilih berdasarkan susunan gambar yang mendeskripsikan suasana wilayah yang tergenang lumpur, dan pembacaan-pembacaan simbol. Sedangkan di segmen berikutnya, dikelompok terpisah yaitu tulisan pengantar.

Menurut Mamuk, sebaiknya dalam penggarapan buku, fotografer harus tahu kapasitasnya, karena munculnya gunung lumpur ini sangat teknis. Sebaiknya tidak menyimpulkan atau bahkan membuat statemen yang belum tentu diterima banyak orang, karena peristiwa bencana inipun belum bisa dipastikan oleh faktor apa.

Tanah yang Hilang mengingatkan kembali bagaimana alam mampu menelan jaman, karena ulah manusia itu sendiri menyebabkan 60 ribu lebih orang kehilangan tempat tinggalnya. Ingatan kolektif tersebut biasanya ditiadakan karena keberadaanya tidak menyenangkan, kemudian hilang. (Deni Sugandi)

Uncategorized

Lintasan Bingkai Indonesia Menurut Wubin

Catatan singkat bincang buku “Photography in Southeast Asia; A Survey” Zhuang Wubin

“How are you, it’s been a long time” begitulah pembuka Zhuang Wubin, saat kami menjemputnya di salah satu penginapan yang tidak terlalu jauh dari lokasi kegiatan. Sapaan tersebut merupakan pertemuan kedua, menyoal buku karyanya yang akan dipresentasikan di rangkaian acara Photography Book Show 2016 (8/12) di ruang Spasial, Jalan Gudang Selatan nomor 22 Bandung. Wubin sengaja hadir atas undangan panitia Bandung Photography Month 2016, bekerja sama dengan Asosisasi Profesi Fotografi Indonesia (APFI).

Pertemuan terakhir saya dengan Wubin cukup lama, kurang lebih lima tahun lalu, saat bincang buku Chinese Muslim in Indonesia (14/10, 2011) mengantarkan diskusi sebagai moderator, di Selasar Sunaryo Art Space. Buku yang mengupas komunitas para mualaf peranakan Tionghoa, kemudian menjadi keluarga muslim di Indonesia.

Penelitian, buku dan Whubin sepertinya tidak bisa terpisah, karena ia memilih menuliskan dalam rangkaian kalimat tinimbang mewujudkan dalam visual. Ia termasuk penulis produktif, yang sering melakukan kegiatan riset kecil-kecilan yang di danai sendiri. Termasuk menerbitkan buku dengan dananya sendiri, meskipun sebagian dibantu melalui dana hibah, namun sepenuhnya berasal dari keinginan pribadi.

Zhuang Wubin adalah penulis, kurator, dan pemotret dokumenter. Sebagai penulis ia lebih menitikberatkan pada praktek fotografi di Asia Tenggara. 2010 mendaptkan hibah peneletian dari Prince Claus Fund (Amstedam), dan kini duduk sebagai dewan editor di Trans-Asia Photography Review, jurnal publikasi yang didanai oleh Hampshire College dan Universitas of Michigan Schoalry Publication Office sejak 2013. Sebelumnya ia telah menerbitkan tiga buku; Chinese Muslim in Indonesia (2011), Ten Chinatown of Southeast Asia (2010), dan Chinatowns in a Globalizing Southeast Asia (2009).

Dalam kesempatan ini, Wubin hadir sebagai tamu undangan, mempresentasikan karya terakhirnya Photography in Southeast Asia; A Survey. Kompilasi data hasil survey mengenai perkembangan para praktisi fotografi di Asia Tenggara. Buku ini merupakan rangkuman kerja lebih dari sepuluh tahun, dimulau dari 2004 yang hendak memetakan perkembangan fotografi Asia, namun 2006 kemudian dipertajam hanya di area Asia Tenggara.

Buku ini merupakan kegiatan ilmiah yang dirancang melalui penelitian, untuk memperoleh informasi terkini yang bisa terukur dan bisa dipertanggung jawabkan. Beberapa pendekatan selain metode survey, dikenal juga beberapa metode yang memiliki kelebihan dan kekurangan yang mampu menjaring data sebanyak mungkin, diantaranya metode deskriptif, korelasional, komparatif, evaluasi, simulasi, studi kasus hingga peneltian praktis yang lebih menekankan pada beberapa kasus yang lebih mengkerucut.

Buku disusun berdasarkan data dari teknik pengumpulan kuantitatif survey, melaui metode wawancara. Prosedur penelitian ini lebih mengkerucut untuk mengumpulkan data atau informasi tentang populasi yang besar dengan menggunakan sampel yang relatif terbatas. Populasi tersebut bisa berkenaan langsung dengan orang, lembaga hingga komunitas,tetapi sumber utamanya adalah individu. Namun yang menarik adalah luas jangkauannya, semakin luas akan semakin akurat tetapi biasanya membutuhkan waktu yang sangat lama. Penelitian metode survey memiliki tiga tujuan utama yaitu menggambarkan keadaan saat itu, mengiidentifikasi secara terukur keadaan sekarang sebagai perbandingan, dan menentukan hubungan kejadian secara spesifik.

Menurut Wubin penyusunan buku ini membutuhkan waktu yang tidak singkat. Setelah beberapa kali menyusun draft dan revisi, yang memakan waktu kurang lebih sepuluh tahun penyusunan. Data-data ia kumpulkan saat berkesempatan menjadi pengajar di beberapa lokakarya di negara Asia Tenggara. Untuk pencarian data, Wubin menggunakan sumber-sumber literasi penelitian sebelumnya, kemudian ia mutahirkan melalui wawancara secara acak.

Metode penyusunan fotografi yang ia kembangkan dalam buku ini, berasal dari teknik wawancara. Data tersebut kemudian disusun secara sistematis, dan dikompilasi menjadi catatan singkat. Teknik wawancara ini kadangkala memuat data yang kurang tepat karena sangat subyektif. Bisa saja si sumber memberikan informasi yang berlebihan, atau ada informasi yang tidak muncul karena keterbatasan teknik ini. Wubin mengerti betul bahwa cara seperti ini perlu klarifikasi data, agar subyek memberikan data yang obyektif dengan cara konfirmasi ke beberapa orang yang terkait. Namun tetap saja informasi tersebut bisa salah, namun Wubin menyertakan dokumentasi wawancara sebagai data sahih yang tidak bisa dibantah karena sumbernya disertakan.

Buku ini memuat catatan hasil survey di negara-negara Asia Tenggara dalam sempuluh bab bahasan, diantaranya di buka oleh Malaysia, Indonesia, Brunei, Thailand, Myanmar, Laos, Kamboja, Vietnam, Filipina dan terakhir Singapura. Penempatan Malaysia di susunan terdepan karena negara ini termasuk paling aktif, dalam kegiatan fotografi yang ditandai dinamika klub, komunitas yang menggairahkan Salon Fotografi. Di negara ini Wubin kesulitan untuk memisahkan praktek seni dan fotografi itu sendiri, karena didominasi para pegiat genre piktorial, ditandai kehadiran Perak Amateur Photographic Society yang lahir 1897.

Begitu juga dengan praktek fotografi di Indonesia, yang ditandai kegiatan salon foto, yang menjadi urat nadi gelora praktek-praktek fotografi, sejak kolonial Belanda hadir di Nusantara, yang pernah dituliskan oleh Anneke Groeneveld (1989). Eksistensi geliat fotografi di Indonesia ditandai kehadiran Preanger Amateur Vereneging masa kolonial awal, hingga masa kelahiran kedua kalinya menjadi Perhimpunan Amatir Fotografi (PAF) sejak 1957. Selain kegiatan seni kontemporer dan praktis, di Kamboja Wubin menemui beberapa fakta bahwa fotografi mampu menjadi teror. Pada masa pergolakan revolusi di negara ini, pas foto digunakan sebagai arsip sebelum pemberontak dieksekusi mati.

Dalam pemilihan beberapa nama yang dimunculkan, Whubin menentukan berdasarkan eksistensi seniman fotografer yang telah dibuktikan oleh waktu, namun untuk memilih fotografer dengan usia muda, dilandaskan berdasar visi dan pengaruh karyanya dilingkungan tertentu. Penentuan ini tentunya kembali ke cara pemilihan penulis, karena dalam penyusunan buku ini, pelaku fotografi komersial tidak disertakan. Pengecualian tersebut menjadi pilihan bagi Whubin, karena ia tidak begitu berminat dengan genre itu.

Apapun yang dituliskan Wubin merupakan kerja survey untuk memetakan geliat para pelaku, praktisi hingga seniman kontemporer fotografi di Asia Tenggara, termasuk di Indonesia. Sedangkan para praktisi komersial fotografi tidak dituliskan dalam buku ini, dengan alasan kekurang tertarikannya dengan genre ini. Sedangkan untuk cakupan luas wilayah Indonesia hanya di pulau Jawa dan sekitarnya, hal demikian dikarenakan masalah waktu, dan terkendala dukungan dana. Seluruh pekerjaan mengumpulkan fragmen-fragmen ini dikerjakan sendiri selama sepuluh tahun, melalui bantuan beberapa jejaring yang ia kenal, itupun jejaring yang telah ia kenal sebelumnya. Wubin telah menuliskan fragmen fotografi di Indonesia, dan fotografi  di tanah air ini wajib malu, ketika sejarahnya dituliskan oleh orang asing. (deni sugandi)

Uncategorized

Makna Absurd Visual Diary Ismael

Catatan dari bincang buku Visual Diary 01, karya Anton Ismael

Untuk pertama kalinya, pendiri komersial photo studio Third Eye Space, Anton Ismael menyusun buku. Buku yang sebenarnya penyederhanaan dari kitab-kitab catatan proses kreatifnya, yang ditulis tangan berupa scrap book, potongan-potongan majalah, coretan gagasan hingga susunan foto yang diambil sembarangan. Fragmen-fragmen tulisan tangan tersebut selalu menjadi referensi, kemudian dirangkai menjadi “buku ide”. Rangkaian halaman diisi dengan coret coret yang tidak jelas maknanya, karena begitu sangat personal. Catatan inilah kemudian disusun menjadi modal dasar karya publikasi dengan tema catatan harian berupa visual.

Buku Visual Diary 01, berdimensi 18 x 25 cm, ISBN: 978-602-73797-0-1, diterbitkan oleh Binatang Press, dan menggunakan jalur distribusi indipenden. Dalam buku ini Anton tidak berkeinginan memberikan wacana yang berat, hanya rangkaian gelisah diterjemahkan dalam mix media, sebagai ungkapan ekpresi dirinya dalam berkarya.

Proses kreatif karya, Anton percaya dengan ungkapan out of the box. Bagaimana caranya untuk lepas dari kungkungan, keluar dari pakem yang sudah digariskan oleh norma umum. Pemberontakannya diekspresikan dengan mengahdirkan karya lintas media, antara fotografi ke grafis, hingga teknik kolase. Dititik ini Anton berkehendak untuk menjelaskan kepada publik, bahwa fotografi tidak sanggup lagi menampung visi kreasinya. Tetapi Anton sepertinya lupa, bahwa sebenarnya dalam fotografi komersial di Indonesia tidak ada lingkaran yang mengekang, dicirikan bahwa fotografi itu repetisi-mengulangi dari bentuk umum yang bisa diterima masyarakat. Apapun caranya ia ingin ke luar lingkaran, sebenarnya ia memasuki lingkaran yang baru-lebih besar, lingkaran setan yang tidak berujung.

Penyusunan buku ini suka-suka, bahkan dalam pernyataanya di bincang buku (5/12) konten buku tersebut absurd. Tidak ada makna khusus apalagi bila disandingkan dengan redaksi yang tercantum di buku. Bisa jadi Anton menyusun buku ini sebagai ungkapan ekspresinya, tanpa harus terjebak dengan penyusunan sistematika yang baku. Struktur seperti ini menandakan bentuk penolakan alias anti mapan. Dalam bincang buku Anton mengisahkan upayannya membesarkan infrastruktur fotografi sejak 2006. Dimulau melalui diskusi dan forum belajar Kelas Pagi di studionya, dan kini telah berusia 10 tahun. Menyebar hingga Yogyakarta dan kini merambah ke Jayapura, Papua.

Para alumni sekolah fotografi rakyak (gratis) telah berkiprah di dunia komersial, yang kini duduk diposisi pesaing usahanya. Anton mengerti betul bahwa persaingan akan datang, juga memberikan pilihan kreasi yang lebih beragam dibandingkan sebelumnya. Ia menjelaskan bahwa dalam lingkar kreatif komersial, pasar sangat kuat menentukan siapa yang mampu bertahan di dunia komersial. Bahkan dengan nada sinis ia menegaskan bahwa kini yang bisa bertahan dan diterima pengguna jasa karena; murah, tidak ada pilihan lain, karena hubungan pertemanan atau karena bentuk pekerjaan yang sangat spesifik.Pekerjaan-pekerjaan itulah yang membesarkan Anton Ismael, sebagai amunisi untuk mengembangkan edukasi, memberi dan membuka kesempatan.

Dalam buku ini, Anton melemparkan gagasan kepada para sidang pembaca, tanpa harus memeras otak untuk mengerti. Susunan buku ini menekankan aspek visual sebagai bahasa ungkap, dengan pendekatan gaya kontemporer. Karya fotografi atau bukan, nampaknya Anton tidak begitu peduli, namun ia lebih mempercayai metode rekam fotografi sebagai dasar kreasi yang membebaskan, saatnya rebel!. (Deni Sugandi)

Uncategorized

Rumpang Dalam Rumpi

Catatan bincang buku Rumpang, Ully Zoelkarnain.

Dalam pemotretan feysen, ada saat-saatnya kamera dijepretkan hanya sekedar untuk mengukur tata cahaya, atau momen yang disusun oleh bingkai-bingkai hingga mendapatkan pilihan terbaik. Teknik ini biasa ditemui untuk pemotretan feysen hingga produk, beberapa bingkai dibuang untuk mendapatkan tata cahaya, sudut dan momen terbaik. Dari sekian ratusan hingga ribuan foto “gagal” ini kemudian dirangkai dan dimaknai melalui kompilasi album foto, buku disebut Rumpang.

Rumpang dalam dedaring Kamus Besar Bahas Indonesia berarti sela (selang waktu, berhenti sebentar, dan sebagainya). Waktu jeda inilah menjadi pintu masuk Ully Zoelkarnain, memainkan foto sampah, kemudian menjadi rangkaian kreatif. “dalam profesi saya, harus menghasilkan karya foto yang sempurna” jelas Ully, namun di sisi lain selalu saja ada yang menggelitiknya, bahwa foto jauh dari sempurna tersebut merupakan rangkaian menuju sempurna. Boleh dikatakan, bila tidak ada karya rumpang ini, maka tidaklah ada karya sempurna pilihan konsumen. Ully mengatakan bahwa kecenderungan konsumen saat, memilih foto yang disebut astra atau disebut juga “asal terang”. Dengan demikian tantangan profesi fotografi feysen semakin terpuruk, karena visi dan kreasinya dihargai nilai ekspresi terendah, astra tadi.

Astra menjadi pintu masuk bagi Ully untuk membuka kembali foto-foto sampah, kemudian disusun bersama editor, untuk melihat kembali rangkain proses menuju sempurna yang sering diabaikan. Dalam pemilihan fotopun diserahkan kepada pihak editor, namun itupun kary-karya relatif baru, karena karya sebelumnya hilang bersama rusaknya beberapa hardisk. Kesadaran digital asset management menjadi penting bagi pelaku fotografi profesioal. Kini para profesioan cenderung membuang karya yang dianggap tidak sempurna, dan karya pilihan konsumenlah yang disimpan.

Foto-foto yang ditampilkan jauh dari sempurna, bahkan ada satu halaman memuat foto yang “gagal” perekaman, menampakan layer warna saling bertumpuk. Terjadi karena proses perekaman kamera yang belum sempurna. Ully menggunakan kamera format medium mekaknik film, kemudian menggunakan digital back. Jenis hybrid inilah ia sering menemui kegagalan proses transfer file, karena buffer memory tidak mencukupi. Bentuk rupa seperti ini menjadi salah satu ciri penyusunan buku Rumpang, bahwa kesempurnaan dibangun oleh proses panjang ketidak sempurnaan. Buku ini dipublikasi umum, melalui distribusi self publishing, dibandrol harga dua ratus ribu rupiah.

Ully menekuni fotografi feysen sejak 2006, selepas bekerja sebagai karyawan perusahaan publikasi nasional, yang menerbitkan satu-satunya majalah fotografi Foto Media. Selepas itu belajar menekuni fotografi komersial, hingga menguhkan hatinya terjun total sebagai profesional fotografer untuk kebutuhan editorial dan feysen. Pernah bergabug di The Loop, mengerjakan SOAP Magazine, a+ Magazine, dan ini memiliki managemen sendiri di The Group, dan ulzphotography. (denisugandi)

Uncategorized

Bandung Photography Book Show 2016

Tidaklah banyak para pembingkai gambar mekanik-elektronik menyusun buku. Baik itu dalam bentuk scrapbook atau penyusunan yang lebih serius. Sejak kemunculan budaya literasi fotografi yang dimulai melalui buletin fotogafi di lingkungan klub Perhimpunan Fotografi Amatir (PAF), kemudian mekar melebar menjadi Fotografi Indonesia (Fotina) melalui pemred alm. Leo Nardi. Fotina menjadi cikal bakal kelahiran salah satu majalah yang bertahan lama, distribusi nasional, dan menjadi satu-satunya sumber referensi fotografi Indonesia, bernama Foto Media. Namun sayang, satu-satunya sumber pencerahan harus tutup umur karena persoalan klasik, rendahnya minat baca, oplah menurun, biaya produksi meningkat.

Jelang awal 2010 beberapa penerbit khusus fotogafi hadir, diantara pegiat swapublikasi (self publishing) melalui jalur indie label-pre order. Diantaranya Galeri Fotografi Jurnalistik Antara (GFJA) yang getol menerbitkan buku foto katalog hingga karya-karya lama dalam bungkusan re-mastered. Kemudian Panna Photo Institute, Matanesia Surabaya dan beberapa berlabel sendiri. Inilah bentuk sumber informasi fotografi, dalam perwajahan yang lebih menawan, diwartakan melalui kacamata personal.

Untuk merangkum geliat penerbitan swapublikasi, Program Studi (Prodi) Fotografi dan Film Unpas, bekerja sama dengan Asosiasi Profesi Fotografi Indoensia (APFI), menggagas dummy book show, dan bincang fotografi yang dikemas dalam Photography Book Show 2016, rangkaian dari kegiatan Bandung Photo Month 2016 yang ke-empat. Mengambil tempat di ruang inkubasi usaha bersama Spasial, Jalan Gudang Selatan Nomor 22 Bandung.

Acara yang berlangsung dari 3 Desember, hingga tanggal 9. Dibuka dengan Launching Buku Telinga Panjang karya Ati Bachtiar (3/12), kemudian dilanjutkan beberapa hari ke depan, diantaranya diskusi buku oleh Ully Zoelkarnain, Anton Ismael, Mamuk Ismuntoro (Matanesia), Ati Bachtiar, Seno Gumira Ajidarma, Zhuang Wubin, Mesk 56 dan diskusi seputar dummy book show bersama submission artist.

Event ini menjadi ajang silaturahmi para pegiat swapublikasi fotografi, seluruh Indonesia melalui lintas komunitas.

Uncategorized

UJIKOM 29-30 NOVEMBER 2016

Peluang bagi pelaku profesi fotografi untuk bersertifikat secara gratis. Diselenggarakan oleh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan Lembaga Sertifikasi Kompetensi Fotografi Indonesia (Leskofi) yang akan diselenggarakan di Bandung, 29-30 November 2016.

Dipersyaratkan untuk mengikuti praiuji kompetensi yang akan diselenggarakan oleh Pengda/Pengcap APFI di beberapa kota, silahkan untuk konfirmasi segera:

1. APFI Pengda Jatim, 18-19 November 2016. Info: Surabaya 082139748567(Rizal), Madiun 0816564345(Puguh), Ponorogo 08523398024(Abdul Gofur), Jember 085236444999 (mas AP), dan Pasuruan 081233155612(Agus Taufik). Sekretariat APFI Pengda Jatim: Jl. Manyar Kartika VII/72, Surabaya 60118. Tlp. 081515233432 (Humas).

2. APFI Pengda Jabar, 18-19 November 2016. Hubungi: Yosa Fiandra 088809746665 atau Nugroho Isryanto (Nunu) 08122039484. sekretariat APFI Pengda Jabar, Jl. Ciumbeuleuit 22, Gedung Pondok Lensa Lantai 3. 08122142029.
Jadwal pretest jumat jam 14.00 di studio anginphotoschool, gedung pondoklensa lantai 3 jl ciumbuleuit 22.
Sabtu jam 13.00 di aula Telkom lantai 5, fakultas industri kreatif.

3. APFI Pengda Lampung, pendaftaran 12-18 November 2016, pelaksanaan pra-uji 19 November 2016, di di TUK SCP Jl. Bunga sedap malam raya no 79 Perumnas way kandis. Tanjung senang. Bandar Lampung. Hub. 081366425825 Simon Abdurrahman.

Peserta lolos pra-uji akan diikutsertakan uji kompetensi di Bandung, 29-30 November 2016.Informasi berkaitan seputar sertifikasi kompetensi fotografi bisa dilihat di: Leskofi

Uncategorized

Pelatihan Fotografi Tema Transparan

whatsapp-image-2016-11-08-at-8-59-38-pm

whatsapp-image-2016-11-08-at-8-59-25-pm

whatsapp-image-2016-11-08-at-8-58-41-pmKegiatan pelatihan fotografi mingguan bersama instruktur Ade Yolvi, yang diselenggarakan oleh Pengurus Daerah Sumatera Selatan. Dalam kegiatan ini ditujukan khsusu bagi anggota APFI yang telah mengikuti pre-test atau uji kompetensi fotografi di Palembang. Dilaksanakan di Food Station, Jalan Cipto Simpang 4 KT Masjid Taqwa, kota Palembang. Pelatihan ini merupakan upaya pengurus Pengda Sumsel, untuk memberikan keterampilan dan sarana silahturahmi sesama anggota asosiasi.

Uncategorized

Pameran Fotografi Manusia dan Kontemplasi

yusef-tri-wiyonoYusef Tri Wiyono

tau-tiboTau Tibo

nur-hadi-coffeeholicNur Hadi Coffeeholic

mary-yamadamary yamada

enod-duatiga-wigunaEnod Duatiga Wiguna

doni-soemantriDoni Soemantri

dicky-harindraDicky Harindra

arief-hariadiArief Hariadi

kontemplasi adalah kegiatan perenungan, bertujuan mengupas kembali langkah dan perjalanan yang telah ditempuh. Dalam pengenalan navigasi disebut back azimuth, yang berarti kembali ke titik awal tujuan. bila melenceng satu derajat, maka akan mengubah tujuan utama.

Upaya perenungan ini sepertinya hendak ditawarkan dalam pameran “Manusia dan Kontemplasi” yang akan diselenggarakan oleh sebagain anggota yang tergabung di Asosiasi Profesi Fotografi Indonesia (APFI) Pengurus Daerah Jawa Timur. Sabtu, 12 hingga 16 November 2016, mulau pukul 18.30 EIB, di Galeri Dewan Kesenian Surabaya (DKS), Balai Pemuda, Jalan Pemuda, Surabaya, Jawa Timur.

Karya fotografi yang dipamerkan karya individu, kompilasi dengan tema kontemplasi, dinataranya; Rio Suib Wibowo, Dody Setiawan, Ronny Firmansyah, Lee Wafat, Purwanto Rass, Rizal Imanullah, Jonnie Kierman, Tiz Brotosudarmo, Riadi Rahardja, Rizal Amrulloh, Doni Soemantri, Alfon Adalah Klepon, Luhur Adi Prasetyo, Rahmad Hidayat dan Hilss. Fotografer berasal dari beberapa kota di Jawa Timur; Surabaya, Sidoarjo, Batu, Salatiga, Malang dan dari Bandung perwakilan dari APFI Pengda Jawa Barat.

Konfirmasi kehadiran: https://www.facebook.com/ContemplativeIndonesia/

Uncategorized

Uji Kompetensi Makassar

Telah dilakukan Uji Kompetensi (Ujikom) bidang kompetensi fotografi di Grand Clarion, Makassar (12/10, 2016). Ujikom ini merupakan rangkaian kerja sama antara Leskofi dan Bekraf ke-4 setelah Surabaya, Palembang dan di Padang. Ujian sertifikasi ini diikuti oleh 100 peserta yang telah mengikuti seleksi melalui pre-test oleh peserta dari Makassar, Jayapura, Biak, Bogor, Surabaya, Palu dan Toraja. Hingga kini telah lahir 300 orang yang telah memiliki sertifikat untuk level 3. Sertifikat ini menjadi syarat umum yang harus disertakan untuk mengerjakan jasa pemotretan, untuk pekerjaan yang dibiayai negara.

Ujikom dibuka oleh Sabartua Tampubolon dari Bekraf, kemudian dilanjutkan materi bimbingan teknis berkaitan dengan soal-soal yang akan diujikan. Bentuk ujian dibagi dalam dua sesi, materi dan ujian praktek.

Uncategorized

Festival Harau Pengcab Luak 50

WhatsApp Image 2016-09-02 at 06.33.47APFI Penguru Cabang Luak 50, turut terlibat dan turut mendukung kegiatan Pasa Harau 2016. Event seni dan budaya yang akan diselenggarakan 13 hingga 14 September 2016, di Kabupaten Limapuluh Koto, Sumatera Barat. Event ini akan menampilkan kesenian tradisi Randai, Tari Piring, sajian khas kuliner Minang, juga menyelenggarakan festival layang-layang dan kegiatan treking lembah Harau. Lembah yang terbentuk karena aktivitas patahan besar Sumatera, 30-40 juta tahun yang lalu. Tebing tegak 150 hingga 200 meter yang dibelah Batang Sianipan sepanjang jalur Harau, menjadi arena bermain bingkai-bingkai fotografi di event Pasa Harau. Informasi detail kegiatan bisa menghubungi +62 8112504160, https://harau.id/ atau Uda Nanda, Ketua APFI Pengcab Luak 50.