Uncategorized

Genggam Komersial Foto

Foto komersial ditelanjangi oleh profesional Commercial Photography, Roy Genggam. Mengambil tempat di Food Step Cafe, Ciumbuleuit Bandung (18/09/2017). Roy menjelaskan bukan hanya teknis, tetapi membuka rahasia di balik layar gemerlap pemotret iklan dan produk. Pemotretan di wilayah ini bukan saja diperlukan skill, tetapi menuntut perilaku dan sikap kerja yang baik. Swlain keahkian, diperlukan pula unsur kreatif yang harus bisa melayani maksud dan sasaran produk, diwujudkan dalam eksekusi pemotretan. “skill aja ga cukup, tetapi komunikasi dan mendengarkan jauh lebih penting” jelas Roy. Jenis Konsumen jenis ini biasanya sangat menuntut dengan standar yang timggi, namun disikapi dengan fee yang rendah dan kompetitif. Lokakarya ini digagas dan dilaksanakan bersama Angin Photoschool dan Asosiasi Profesi Fotografi Indonesia (APFI). Kegiatan ini dihadiri oleh komunitas, profesional hingga pecinta fotografi di Bandung. Hadir juga perwakilan APFI Pengurus Daerah Sulawesi Selatan, dan Pengcab APFI Madiun.

Uncategorized

(Buku) KESAKSIAN SAD

Suku Kubu atau juga dikenal dengan Suku Anak Dalam atau Orang Rimba adalah salah satu suku bangsa minoritas yang hidup di Pulau Sumatra, tepatnya di Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan. Mereka mayoritas hidup di provinsi Jambi, dengan perkiraan jumlah populasi sekitar 200.000 orang. Menurut tradisi lisan suku Anak Dalam merupakan orang Maalau Sesat, yang m lari ke hutan rimba di sekitar Air Hitam, Taman Nasional Bukit Duabelas. Mereka kemudian dinamakan Moyang Segayo. Tradisi lain menyebutkan mereka berasal dari Pagaruyung, yang mengungsi ke Jambi. Ini diperkuat kenyataan adat suku Anak Dalam punya kesamaan bahasa dan adat dengan suku Minangkabau, seperti sistem matrilineal (sumber: Wikipedia).

Karya Yudhi Nopriyadi anggota ASOSIASI PROFESI FOTOGAFI INDONESIA/APFI Pengda JAMBI, yang menyoal budaya Suku Anak Dalam, tradisi Orang Rimba sub kultur di Jambi ini menjadi bingkai cerita, yang digulirkan dalam catatan visual dokumenter, dengan gaya tutur visual reportase. Buku bisa dimiliki dengan cara Pre-order (permintaan khusus), dengan cara melayangkan permintaan ke: 085727082121

Uncategorized

(RATAGALING) Perpustakaan Keliling di Pangkalpinang Bangka

Ratagaling atau Roadshow Pustaka Keliling Fotografi, yang digagas Bidang Litbang APFI Pusat, Sdr. Wahyu Dhian tiba di perjalanan pertama. Bertempat di Latrasse, Pangkalpinang, Bangka-Belitung. Dihadiri komunitas, pecinta fotogafi dan mahasiswa di sekitar kota. Pustaka keliling ini termasuk sangat langka, apalagi berkaitan dengan materi fotografi. Lawatan ini dalam tujuan sosialisasi melek membaca, juga sekaligus silaturahmi ke Pengurus Daerah dan Pengurus Cabang APFI di Bangka-Belitung, Sumatera Selatan, dan Lampung. dimulai 2 Maret, hingga 9 Maret 2017 ditutup di kota Lampung.

Uncategorized

(RATAGALING) 2017 Sumsel Photography Book Show

SUMSEL PHOTOGRAPHY BOOK SHOW. Dalam rangkaian RATAGALING (Roadshow Pustaka Fotografi Keliling) Bidang Diklat dan Humas APFI Pengurus Pusat, akan hadir bersama APFI Pengurus Daerah Sumatera Selatan, mengundang hadir pecinta fotografi se-Palembang dan sekitarnya, hadir di 2017 SUMSEL PHOTOGRAPHY BOOK SHOW.

Venue di Tri Store Palembang Square Mall, Lantai 3. Dari tanggal 3 hingga 5 Maret 2017. Rangkaian Acara mulai pukul 14.00 – 18.00 WIB; Pembagian sertifikat level 3, pameran buku fotografi, pameran tunggal fotografi karya Nafiko Afza, klini fotografi Diecast Photography, bursa dan penyewaan kamera dan asesoris, cleaning dan service kamera, lomba foto dan donasi buku untuk disumbangkan.

Uncategorized

ROADSHOW PUSTAKA FOTOGAFI KELILING (RATAGALING)

Dalam rangkaian penutup progam Pengurus APFI Pusat 2014-2017, Bidang Litbang APFI Pusat dan Bidang Humas akan melakukan kegiatan ROADSHOW PERPUSTAKAAN FOTOGRAFI KELILING. Kegiatan ini bertujuan silaturahmi, sosialisasi program publikasi buku fotografi, pengenalan kiat-kiat penyusunan buku fotogafi, diskusi dan silaturahmi antara Pengurus Daerah dan Pengurus Cabang. Roadshow pertama akan melawat ke Pengda Bangka-Belitung (Pangkal Pinang), Pengda Sumatera Selatan (Palembang) dan Pengda Lampung.

Tema kegiatan “Ngelapak & Diskusi Buku Fotografi”, akan hadir tanggal  2 Maret 2017 di  Latrasee Bistro (Pangkalpinang), berlanjut tanggal  3-4 Maret 2017 di Palembang Squere Mall (Palembang), dan perjalanan terakhir tanggal 7 Maret 2017 di Simon Class Of Photography (Lampung).

Uncategorized

FOTOKOPI SORE APFI PENGDA PALU

FOTOKOPI SORE

Berkumpul  dan bincang-bincang seputar fotografi sambil ngopi, menjadi kegiatan mingguan APFI Pengda Sulawesi Tengah (Palu). Pertemuan ini mengupas segala hal yang berkaitan dengan fotografi, baik berbagi pengalaman berprofesi sebagai fotografer, diskusi karya, presentasi fotografi, mengupas gaya fotografi dunia. Pertemuan ini digagas dan diselenggarakan bulanan,  untu mempererat tali persaudaraan anggota AFPI Pengda Sulteng, sekaligus aktivasi kegiatan fotografi di kota Palu. Diharapkan dari pertemuan mingguan ini lahir kegiatan-kegiatan fotografi, sambil mematangkan keterampilan dan seni fotografi. Pertemuan selanjutnya mari bergabung:

Hari/ tanggal : Minggu, 26 Februari 2017
Waktu. : 15.00 Wita (jam 3 Sore)
Tempat. : Bro Coffe Jl. Juanda, Palu

Informasi selanjutnya hubungi: Josua Marunduh  +6281356092380

Uncategorized

(Bincang Buku) Tarung Visual Ci Tarum

(Bincang Buku) TARUNG VISUAL DI CI TARUM
Ci Tarum adalah nadi dari Jawa Barat. Mengalir 300 km dari lereng gunung api purba Bandung Selatan, hinngga bermuara mendekati ibu kota , di pantai utara Jawa Barat. Air yang mengalir tersebut membawa berita tetang elegi suram, hingga sumber penghidupan bagi masyarakat yang menggantungkan nasibnya pa Ci Tarum. Frans Ari Prasetyo menghadirkan penggalan persoalan ini melalui eksplorasi matanya, sebentuk kesaksian visual mengupas kisah air dan warga Kecamatan Andir di Kabupaten Bandung. Warga Desa Rancamanyar ini sehari-harinya bersentuhan langsung dengan Ci Tarum, sehinggamereka memiliki identitasnya sendiri. Mari kita kupas langlang mata narasi perjalanan hidup masyarakatnya, melalui bingkai-bingkai foto sebagai saksi.

Mengundang sahabat perambah visual fotografi, hadir acara bulanan ASIK SORE = APFI (Jabar) Berdiskusi Sore.

Hari/Tanggal: Jumat, 3 Maret 2017
Waktu: 17.00 sd. 18.30 WIB
Venue : Angin photoschool,
Jln Ciumbuleuit no.22 Gedung Pondok Lensa Lt.3

ASIK SORE
Adalah program bulanan APFI Pengda Jabar, dalam upaya menggairahkan anggota APFI dan pecinta fotografi. Dilaksanakan berkala satu bulan sekali, dengan tema dan topik yang berbeda-beda. Tujuannya adalah bersilaturahmi, saling berbagi informasi dan pengalaman seputar fotografi sebagai hobi, minat khusus dan profesi. Kegiatan terbuka untuk umum dan tidak berbayar. Konfirmasi kehadiran: Ines 089688568988

Uncategorized

Pembentukan Pengcab Tanjung Jabung Barat

Mengawali pembukaan tahun baru 2017, Ketua APFI Pengda Jambi, Dayu Agi Saputra dan pengurus daerah lainya, mengukuhkan pembentukan APFI Pengcab Tanjung Jabung Barat – Jambi, tanggal 25 Januari 2017.

Pengurus Cabang APFI Tanjung Jabung Barat, diketuai oleh Asri Angga, Sekretaris Fauzal Amri,dan Sutrisno duduk sebagai Bendahara. Kepengurusan berlaku dengan masa bakti 25 Januari 2017 hingga 25 Januari 2020.

Uncategorized

Deklarasi Pengurus Cabang Wakatobi

Dalam rangkaian kegiatan Hunting Bareng pada Pembukaan Festival Budaya Akbar Wakatobi Wonderful Festival and expo (WAVE2016) di Pulau Wangi-wangi. Sekaligus mendeklarasikan berdirinya Asosiasi Profesi Fotografi Indonesia Pengurus Cabang Wakatobi, di bawah APFI Pengurus Daerah Sulawesi Tenggara (15/12).

Dideklarasikan di pulau Wangi-wangi, salah satu pulau terbesar dari 4 pulau lainya; Wangi-wangi,  Kaledupa, Tomia dan Binongko, kemudian disingkat menjadi Wakatobi. Dihadiri para pegiat di komunitas Lensa Wakatobi (LEKAT), diantaranya Guntur wakatobi, Muizt bhojest, Dulan ode, Aris daeng, Esti hasrawati, Hamird, Chywank, Ade irawati, Chandra, Achunk, Edho, La andra, La Lomi, Askamil ode, Eryka febrianty, Arianti rabasi, Amal hermawan, Aswal, Uphyk, Santi, Amel, Mazar, Gusry, Izil, Darul mahendra.

 

 

Uncategorized

Mendengarkan Telinga Panjang

Catatan dari Bincang buku Telinga Panjang; Mengungkap yang Tersembunyi, karya Ati Bachtiar.

“Apakah benar apa yang saya lakukan membawa manfaat?” guman Ati dalam suatu kesempatan menjelang peluncuran buku Telinga Panjang di acara Bandung Photography Book Show 2016 (3/12). Celoteh itu masih terngiang di telinga saya, seakan-akan tugas ini menjadi beban berat seorang Ati yang nota benenya seorang ibu rumah tangga. Untuk apa seorang ibu dua anak ini berani-beraninya menapaki Kalimantan Timur hingga ke Barat? Padahal suku Dayak telinga panjang tidak meminta dirinya hadir mendokumentasikan. Namun selalu ada gundah dalam diri Ati, sepertiya ada rasa syukur yang ia terjemahkan dalam nazar yang tidak terucap. Menggali kembali keberadaan para pewaris jati diri Apokayan di hulu Mahakam, sebagai warisan dunia. Menyibak selimut misteri keberadaan Hampatong si telinga panjang; mengungkap yang tersembunyi.

***

Kapal perahu kayu itu dipacu melawan arus, sesekali harus tancap gas agar tidak tersangkut batu. Motoris atau sebutan untuk pengendara perahu, harus sigap membaca riak air. Bila air tenang menandakan dalam, namun riak semakin riuh biasanya air sungai dangkal, ditandai bongkah-bongkah batu yang tajam siap merobek lambung perahu bila tidak berhati-hati.

Semakin ke hulu perahu Ketinting ada saat-saatnya menyerah melawan arus Mahakam, terutama bila berhadapan dengan jeram-jeram yang terjal dan dalam. Dalam kondisi seperti ini, penumpang terpaksa harus turun dan memanggul bawaanya, dilanjutkan berjalan kaki melalui tepian sungai, kemudian bertemu kembali di hulu. Menaikan perahu melalui jeram bukan perkara mudah, biasanya dilakukan motoris yang telah berpengalaman dan tahu persis setiap jengkal sungai. Tragedi pernah merengut motoris dan penumpang anggota batalyon 611 yang lenyap ditelan sungai. Untuk memperingati musibah ini, ceruk tersebut dinamani ria 611. Profesi seorang motoris sungguhlah berat, selain bertanggung jawab keselamatan penumpang juga keberlangsungan rumah tangga. Karena istri sering ditinggal berhari-hari, seorang motoris harus menerima nasib sebagai “korsling” atau korban selingkuh.

Bagi suku dayak di hulu, kondisi demikian menjadi santapan sehari-hari, bahkan dianggap biasa. Aliran sungai yang diarungi biasanya akan semakin dangkal dan berbatu bila mendekati hulu. Daerah Aliran Sungai yang membentang 980 km, bermuara di Kutai Barat, melintasi Kutai Kartanegara, dan bermuara di Samarinda merupakan jalur lalu lintas penting yang menghubungkan hulu ke muara, sebagai jalur perdagangan dan kegitan sosial.

Perjalanan yang melelahkan dan berbahaya ini menjadi menu harian Ruh Hayati, atau biasa dipanggi Ati Bachtiar. Seorang ibu rumah tangga yang membulatkan tekad, mendokumentasikan komunitas telinga panjang, di hulu Mahakam, Kalimantan Timur, sebagian di Kalimantan Utara dan Kalimantan Barat yang dirangkai dalam tiga kali kunjungan. Kedatangan pertama di bulan Maret, kemudian dilanjutkan Mei 2016. Penyusunan buku ini bukan perkara mudah, karena sebelumnya telah ditata dalam bentuk perencanaan, pencarian data literatur, konsultasi, hingga pemotretan langsung ke lapangan. Mungkin ribuan bingkai yang telah di koleksi oleh Ati, mengenai keberadaan telinga panjang, baik itu terkait langsung dengan mereka, hingga situasi dan kondisi komunitas mereka tinggal. Garapan awal yang hendak disajikan dalam buku ini adalah menggunakan pendekatan portrait, namun seiring dengan perjalanan waktu, konsep tersebut kemudian berganti muatan yang lebih umum menjadi kompilasi aktivitas dan makna ritual yang tertuangkan dalam upacara budaya, ritus suku Dayak.

Kisah petualangan ibu rumah tangga ini terbayarkan, dalam bentuk buku Telinga Panjang; Mengungkap yang Tersembunyi. Buku yang disusun sebulan setelah pemotretan terbilang sangat singkat, dan tanpa jeda. Disusun oleh sang suami tercinta Ray Bachtiar, bertugas memilih foto dan merangkaikan menjadi kisah yang seperti tersaji seperti di dalam buku berdimensi 23 x 23 cm. Kemudian untuk perbaikan redaksi diraut oleh Seno Gumira Adjidarma. Terbit pertama kali tanpa nomor ISBN, bulan November 2016.

Struktur penulisan buku ini dasarnya disusun oleh Ati, kemudian dibagi menjadi tujuh bagian dalam pembabakan cerita. Fragmen-fragmen tersebut menceritakan secara runut sebelum, saat proses pendokumentasian, hingga persoalan-persoalan yang perlahan tersingkap. Dalam fragmen pertama mengisahkan awal mula dan alasan mendokumentasikan, hingga menemui beberapa masalah yang ditemui di lapangan. Informasi tersebut terbuka secara perlahan, seiring dengan penggalian informasi dari subyek melalaui metode wawancara dan pengambilan foto. Pendekatan yang digunakan Ati Bachtiar dilakukan dengan perbincangan, tanpa harus memotret terlebih dahulu. Ati menceritaka bahwa untuk memotret sang telinga panjang tidaklah mudah, karena keberadaannya di ladang pada hari kerja, bukan di desa. Tantangan berikutnya adalah para telinga panjang ini sebagian menentukan tarif untuk difoto. “Kalau pake fitur burst di kamera, tetap saja harus dihapus” ungkap Ati. Dengan demikian strategi pendekatannya yaitu dengan negosiasi melalui obrolan. Mungkin inilah keunggulan fotografer perempuan, karena bisa lebih mendekatkan dirinya dengan subyek, sehingga batas formal biasanya terbuka leluasa.

Fragmen ke dua mengupas tentang kesaksian migrasi suku Kenyah Apokayan, yang diceritakan oleh Pui Panyan (106 tahun) dari suku Dayak Kenyah Lepoq Jalan. Ia kehilangan kaki kanannya saat migrasi karena sebilah kapak menimpa kakinya. Selain itu Ati berkesempatan menyaksikan proses tanam padi di hutan ladang yang baru dibuka. Pola tanam tradisional yang masih dilakukan di sebagian suku Dayak, masih menggunakan panduan kalendar alam. Kegiatan menugal atau menanam biasanya dilakukan secara gotong royong. Di fragmen ke tiga diceritakan kegiatan piknik di sela-sela menugal atau setelah kegiatan tanam di ladang. Di kisah selanjutnya Ati dinyatakan sebagai anak angkat Christina Yek Lawing (67 tahun) dari suku Bahau, melalui prosesi adat yang singkat. Gelar yang didapatnya adalah sebutan Buaq yang berarti buah-buahan. Dari ibu angkat inilah mengalir cerita tentang persengketaan masyarakat adat Long Isun. Tanah adat seluar 80 hektar bersinggungan langsung dengan perusahaan besar pemilih HPH.

Berikutnya di fragmen ke-empat mengisahkan di upacara ritual Dayak, disebut Ritual adat Pakenong Tawai di Datah Bilang Ilir. Upacara ini merupakan ucap rasa syukur kepada yang Maha Kuasa, ditandai dengan kegiatan festival tari, paduan suara, hingga aktivitas lainya. Puncak acara ditutup dengan pencanangan Belawing Desa, yang sebelumnya dipasang 1975 pada masa orde lama. Dalam rangkaian upacara tersebut disertakan juga upacara Hudoq Pekayang dan Upacara Uman Undrat. Fungsi dan peran telinga panjang di ungkap di fragmen ke-lima. Ati merangkaikan cerita mengenai arti kecantikan bagi suku Kenyah Umaq Bakung. Termasuk proses pembentukan telinga menjadi panjang, yang membutuhkan kesabaran bertahun-tahun, kemudian berperan sebagai penanda status sosial. Selain memanjangkan telinga, di suku Bahau dan Kenyah dikenal juga seni rajah. Rajah-rajah tersebut sebagai penanda tingkatan status sosial sebagai bangsawan. Informasi hasil penelusuran Ati, mencatatkan kurang lebih 43 orang yang masih bertahan, bertelinga panjang. Alasan malu dan kurang percaya diri menjadi alasan kenapa sebagian telinga panjang harus memotong daun telingannya, agar bisa diterima di kalangan masyarakat modern. Ati mencatatkan ada 11 orang yang telah memotong daun telingannya di Puskesmas, dengan bantuan medis.

Selain kehidupan dan identitas, Ati mengarahkan lensanya ke tema kematian, saat kunjungan ke Desa Pampang, Samarinda Utara, Kalimantan Timur. Di fragmen ke-tujuh Ati menceritakan bagaimana Kenyah Bakung berduka, mengantarkan salah satu telinga panjang Amai Pejualang Injuk (88 tahun) ke peraduannya terakhir. Secercah harapan masih bisa disaksikan di desa Adat Pampang, ada beberapa generasi penerus yang masih melakoni tradisi, menjadi telinga panjang. Diantaranya Tinen Helen (45 tahun), dan Tinen Luwing (40 tahun) penari di lamin adat desa wisata Pampang.

Kerja dokumentasi ini merupakan catatan penting keberadaan telinga panjang, yang sebelumnya sering luput dari perhatian pemerintah daerah. Beberapa lembaga swadaya masyarakat lokal aktif menyuarakan identitas mereka, tetapi masih dianggap kurang lengkap dalam pendataan visual. Artinya belum ada album fotografi yang faktual mengenai keberadaan mereka saat ini.

Kerja Ati telah membuka wacana tentang identitas budaya yang tergerus pusaran jaman, hilang perlahan karena konstelasi sosial-buaya. Dalam kondisi demikian biasanya pemerintah tidak pernah hadir, tetapi ada di kebijakan-kebijakan yang selalu berpihak kepada kapital besar, atas nama investor yang berwujud kemudahan mengeluarkan izin Kesatuan Pengelolaan Hutan. Semoga melalui jalinan fragmen dalam susunan buku ini, bisa memberikan gambaran luas persoalan identitas kebangsaan, yang kini secara perlahan dikepung oleh ideologi kapitalis, dan dipudarkan secara sistematis dengan cara mengalih fungsikan hutan. Ati Bachtiar telah berjanji kepada para Inay untuk melawan lupa. (Deni Sugandi)