Uncategorized

Mendengarkan Telinga Panjang

Catatan dari Bincang buku Telinga Panjang; Mengungkap yang Tersembunyi, karya Ati Bachtiar.

“Apakah benar apa yang saya lakukan membawa manfaat?” guman Ati dalam suatu kesempatan menjelang peluncuran buku Telinga Panjang di acara Bandung Photography Book Show 2016 (3/12). Celoteh itu masih terngiang di telinga saya, seakan-akan tugas ini menjadi beban berat seorang Ati yang nota benenya seorang ibu rumah tangga. Untuk apa seorang ibu dua anak ini berani-beraninya menapaki Kalimantan Timur hingga ke Barat? Padahal suku Dayak telinga panjang tidak meminta dirinya hadir mendokumentasikan. Namun selalu ada gundah dalam diri Ati, sepertiya ada rasa syukur yang ia terjemahkan dalam nazar yang tidak terucap. Menggali kembali keberadaan para pewaris jati diri Apokayan di hulu Mahakam, sebagai warisan dunia. Menyibak selimut misteri keberadaan Hampatong si telinga panjang; mengungkap yang tersembunyi.

***

Kapal perahu kayu itu dipacu melawan arus, sesekali harus tancap gas agar tidak tersangkut batu. Motoris atau sebutan untuk pengendara perahu, harus sigap membaca riak air. Bila air tenang menandakan dalam, namun riak semakin riuh biasanya air sungai dangkal, ditandai bongkah-bongkah batu yang tajam siap merobek lambung perahu bila tidak berhati-hati.

Semakin ke hulu perahu Ketinting ada saat-saatnya menyerah melawan arus Mahakam, terutama bila berhadapan dengan jeram-jeram yang terjal dan dalam. Dalam kondisi seperti ini, penumpang terpaksa harus turun dan memanggul bawaanya, dilanjutkan berjalan kaki melalui tepian sungai, kemudian bertemu kembali di hulu. Menaikan perahu melalui jeram bukan perkara mudah, biasanya dilakukan motoris yang telah berpengalaman dan tahu persis setiap jengkal sungai. Tragedi pernah merengut motoris dan penumpang anggota batalyon 611 yang lenyap ditelan sungai. Untuk memperingati musibah ini, ceruk tersebut dinamani ria 611. Profesi seorang motoris sungguhlah berat, selain bertanggung jawab keselamatan penumpang juga keberlangsungan rumah tangga. Karena istri sering ditinggal berhari-hari, seorang motoris harus menerima nasib sebagai “korsling” atau korban selingkuh.

Bagi suku dayak di hulu, kondisi demikian menjadi santapan sehari-hari, bahkan dianggap biasa. Aliran sungai yang diarungi biasanya akan semakin dangkal dan berbatu bila mendekati hulu. Daerah Aliran Sungai yang membentang 980 km, bermuara di Kutai Barat, melintasi Kutai Kartanegara, dan bermuara di Samarinda merupakan jalur lalu lintas penting yang menghubungkan hulu ke muara, sebagai jalur perdagangan dan kegitan sosial.

Perjalanan yang melelahkan dan berbahaya ini menjadi menu harian Ruh Hayati, atau biasa dipanggi Ati Bachtiar. Seorang ibu rumah tangga yang membulatkan tekad, mendokumentasikan komunitas telinga panjang, di hulu Mahakam, Kalimantan Timur, sebagian di Kalimantan Utara dan Kalimantan Barat yang dirangkai dalam tiga kali kunjungan. Kedatangan pertama di bulan Maret, kemudian dilanjutkan Mei 2016. Penyusunan buku ini bukan perkara mudah, karena sebelumnya telah ditata dalam bentuk perencanaan, pencarian data literatur, konsultasi, hingga pemotretan langsung ke lapangan. Mungkin ribuan bingkai yang telah di koleksi oleh Ati, mengenai keberadaan telinga panjang, baik itu terkait langsung dengan mereka, hingga situasi dan kondisi komunitas mereka tinggal. Garapan awal yang hendak disajikan dalam buku ini adalah menggunakan pendekatan portrait, namun seiring dengan perjalanan waktu, konsep tersebut kemudian berganti muatan yang lebih umum menjadi kompilasi aktivitas dan makna ritual yang tertuangkan dalam upacara budaya, ritus suku Dayak.

Kisah petualangan ibu rumah tangga ini terbayarkan, dalam bentuk buku Telinga Panjang; Mengungkap yang Tersembunyi. Buku yang disusun sebulan setelah pemotretan terbilang sangat singkat, dan tanpa jeda. Disusun oleh sang suami tercinta Ray Bachtiar, bertugas memilih foto dan merangkaikan menjadi kisah yang seperti tersaji seperti di dalam buku berdimensi 23 x 23 cm. Kemudian untuk perbaikan redaksi diraut oleh Seno Gumira Adjidarma. Terbit pertama kali tanpa nomor ISBN, bulan November 2016.

Struktur penulisan buku ini dasarnya disusun oleh Ati, kemudian dibagi menjadi tujuh bagian dalam pembabakan cerita. Fragmen-fragmen tersebut menceritakan secara runut sebelum, saat proses pendokumentasian, hingga persoalan-persoalan yang perlahan tersingkap. Dalam fragmen pertama mengisahkan awal mula dan alasan mendokumentasikan, hingga menemui beberapa masalah yang ditemui di lapangan. Informasi tersebut terbuka secara perlahan, seiring dengan penggalian informasi dari subyek melalaui metode wawancara dan pengambilan foto. Pendekatan yang digunakan Ati Bachtiar dilakukan dengan perbincangan, tanpa harus memotret terlebih dahulu. Ati menceritaka bahwa untuk memotret sang telinga panjang tidaklah mudah, karena keberadaannya di ladang pada hari kerja, bukan di desa. Tantangan berikutnya adalah para telinga panjang ini sebagian menentukan tarif untuk difoto. “Kalau pake fitur burst di kamera, tetap saja harus dihapus” ungkap Ati. Dengan demikian strategi pendekatannya yaitu dengan negosiasi melalui obrolan. Mungkin inilah keunggulan fotografer perempuan, karena bisa lebih mendekatkan dirinya dengan subyek, sehingga batas formal biasanya terbuka leluasa.

Fragmen ke dua mengupas tentang kesaksian migrasi suku Kenyah Apokayan, yang diceritakan oleh Pui Panyan (106 tahun) dari suku Dayak Kenyah Lepoq Jalan. Ia kehilangan kaki kanannya saat migrasi karena sebilah kapak menimpa kakinya. Selain itu Ati berkesempatan menyaksikan proses tanam padi di hutan ladang yang baru dibuka. Pola tanam tradisional yang masih dilakukan di sebagian suku Dayak, masih menggunakan panduan kalendar alam. Kegiatan menugal atau menanam biasanya dilakukan secara gotong royong. Di fragmen ke tiga diceritakan kegiatan piknik di sela-sela menugal atau setelah kegiatan tanam di ladang. Di kisah selanjutnya Ati dinyatakan sebagai anak angkat Christina Yek Lawing (67 tahun) dari suku Bahau, melalui prosesi adat yang singkat. Gelar yang didapatnya adalah sebutan Buaq yang berarti buah-buahan. Dari ibu angkat inilah mengalir cerita tentang persengketaan masyarakat adat Long Isun. Tanah adat seluar 80 hektar bersinggungan langsung dengan perusahaan besar pemilih HPH.

Berikutnya di fragmen ke-empat mengisahkan di upacara ritual Dayak, disebut Ritual adat Pakenong Tawai di Datah Bilang Ilir. Upacara ini merupakan ucap rasa syukur kepada yang Maha Kuasa, ditandai dengan kegiatan festival tari, paduan suara, hingga aktivitas lainya. Puncak acara ditutup dengan pencanangan Belawing Desa, yang sebelumnya dipasang 1975 pada masa orde lama. Dalam rangkaian upacara tersebut disertakan juga upacara Hudoq Pekayang dan Upacara Uman Undrat. Fungsi dan peran telinga panjang di ungkap di fragmen ke-lima. Ati merangkaikan cerita mengenai arti kecantikan bagi suku Kenyah Umaq Bakung. Termasuk proses pembentukan telinga menjadi panjang, yang membutuhkan kesabaran bertahun-tahun, kemudian berperan sebagai penanda status sosial. Selain memanjangkan telinga, di suku Bahau dan Kenyah dikenal juga seni rajah. Rajah-rajah tersebut sebagai penanda tingkatan status sosial sebagai bangsawan. Informasi hasil penelusuran Ati, mencatatkan kurang lebih 43 orang yang masih bertahan, bertelinga panjang. Alasan malu dan kurang percaya diri menjadi alasan kenapa sebagian telinga panjang harus memotong daun telingannya, agar bisa diterima di kalangan masyarakat modern. Ati mencatatkan ada 11 orang yang telah memotong daun telingannya di Puskesmas, dengan bantuan medis.

Selain kehidupan dan identitas, Ati mengarahkan lensanya ke tema kematian, saat kunjungan ke Desa Pampang, Samarinda Utara, Kalimantan Timur. Di fragmen ke-tujuh Ati menceritakan bagaimana Kenyah Bakung berduka, mengantarkan salah satu telinga panjang Amai Pejualang Injuk (88 tahun) ke peraduannya terakhir. Secercah harapan masih bisa disaksikan di desa Adat Pampang, ada beberapa generasi penerus yang masih melakoni tradisi, menjadi telinga panjang. Diantaranya Tinen Helen (45 tahun), dan Tinen Luwing (40 tahun) penari di lamin adat desa wisata Pampang.

Kerja dokumentasi ini merupakan catatan penting keberadaan telinga panjang, yang sebelumnya sering luput dari perhatian pemerintah daerah. Beberapa lembaga swadaya masyarakat lokal aktif menyuarakan identitas mereka, tetapi masih dianggap kurang lengkap dalam pendataan visual. Artinya belum ada album fotografi yang faktual mengenai keberadaan mereka saat ini.

Kerja Ati telah membuka wacana tentang identitas budaya yang tergerus pusaran jaman, hilang perlahan karena konstelasi sosial-buaya. Dalam kondisi demikian biasanya pemerintah tidak pernah hadir, tetapi ada di kebijakan-kebijakan yang selalu berpihak kepada kapital besar, atas nama investor yang berwujud kemudahan mengeluarkan izin Kesatuan Pengelolaan Hutan. Semoga melalui jalinan fragmen dalam susunan buku ini, bisa memberikan gambaran luas persoalan identitas kebangsaan, yang kini secara perlahan dikepung oleh ideologi kapitalis, dan dipudarkan secara sistematis dengan cara mengalih fungsikan hutan. Ati Bachtiar telah berjanji kepada para Inay untuk melawan lupa. (Deni Sugandi)