Uncategorized

Lintasan Bingkai Indonesia Menurut Wubin

Catatan singkat bincang buku “Photography in Southeast Asia; A Survey” Zhuang Wubin

“How are you, it’s been a long time” begitulah pembuka Zhuang Wubin, saat kami menjemputnya di salah satu penginapan yang tidak terlalu jauh dari lokasi kegiatan. Sapaan tersebut merupakan pertemuan kedua, menyoal buku karyanya yang akan dipresentasikan di rangkaian acara Photography Book Show 2016 (8/12) di ruang Spasial, Jalan Gudang Selatan nomor 22 Bandung. Wubin sengaja hadir atas undangan panitia Bandung Photography Month 2016, bekerja sama dengan Asosisasi Profesi Fotografi Indonesia (APFI).

Pertemuan terakhir saya dengan Wubin cukup lama, kurang lebih lima tahun lalu, saat bincang buku Chinese Muslim in Indonesia (14/10, 2011) mengantarkan diskusi sebagai moderator, di Selasar Sunaryo Art Space. Buku yang mengupas komunitas para mualaf peranakan Tionghoa, kemudian menjadi keluarga muslim di Indonesia.

Penelitian, buku dan Whubin sepertinya tidak bisa terpisah, karena ia memilih menuliskan dalam rangkaian kalimat tinimbang mewujudkan dalam visual. Ia termasuk penulis produktif, yang sering melakukan kegiatan riset kecil-kecilan yang di danai sendiri. Termasuk menerbitkan buku dengan dananya sendiri, meskipun sebagian dibantu melalui dana hibah, namun sepenuhnya berasal dari keinginan pribadi.

Zhuang Wubin adalah penulis, kurator, dan pemotret dokumenter. Sebagai penulis ia lebih menitikberatkan pada praktek fotografi di Asia Tenggara. 2010 mendaptkan hibah peneletian dari Prince Claus Fund (Amstedam), dan kini duduk sebagai dewan editor di Trans-Asia Photography Review, jurnal publikasi yang didanai oleh Hampshire College dan Universitas of Michigan Schoalry Publication Office sejak 2013. Sebelumnya ia telah menerbitkan tiga buku; Chinese Muslim in Indonesia (2011), Ten Chinatown of Southeast Asia (2010), dan Chinatowns in a Globalizing Southeast Asia (2009).

Dalam kesempatan ini, Wubin hadir sebagai tamu undangan, mempresentasikan karya terakhirnya Photography in Southeast Asia; A Survey. Kompilasi data hasil survey mengenai perkembangan para praktisi fotografi di Asia Tenggara. Buku ini merupakan rangkuman kerja lebih dari sepuluh tahun, dimulau dari 2004 yang hendak memetakan perkembangan fotografi Asia, namun 2006 kemudian dipertajam hanya di area Asia Tenggara.

Buku ini merupakan kegiatan ilmiah yang dirancang melalui penelitian, untuk memperoleh informasi terkini yang bisa terukur dan bisa dipertanggung jawabkan. Beberapa pendekatan selain metode survey, dikenal juga beberapa metode yang memiliki kelebihan dan kekurangan yang mampu menjaring data sebanyak mungkin, diantaranya metode deskriptif, korelasional, komparatif, evaluasi, simulasi, studi kasus hingga peneltian praktis yang lebih menekankan pada beberapa kasus yang lebih mengkerucut.

Buku disusun berdasarkan data dari teknik pengumpulan kuantitatif survey, melaui metode wawancara. Prosedur penelitian ini lebih mengkerucut untuk mengumpulkan data atau informasi tentang populasi yang besar dengan menggunakan sampel yang relatif terbatas. Populasi tersebut bisa berkenaan langsung dengan orang, lembaga hingga komunitas,tetapi sumber utamanya adalah individu. Namun yang menarik adalah luas jangkauannya, semakin luas akan semakin akurat tetapi biasanya membutuhkan waktu yang sangat lama. Penelitian metode survey memiliki tiga tujuan utama yaitu menggambarkan keadaan saat itu, mengiidentifikasi secara terukur keadaan sekarang sebagai perbandingan, dan menentukan hubungan kejadian secara spesifik.

Menurut Wubin penyusunan buku ini membutuhkan waktu yang tidak singkat. Setelah beberapa kali menyusun draft dan revisi, yang memakan waktu kurang lebih sepuluh tahun penyusunan. Data-data ia kumpulkan saat berkesempatan menjadi pengajar di beberapa lokakarya di negara Asia Tenggara. Untuk pencarian data, Wubin menggunakan sumber-sumber literasi penelitian sebelumnya, kemudian ia mutahirkan melalui wawancara secara acak.

Metode penyusunan fotografi yang ia kembangkan dalam buku ini, berasal dari teknik wawancara. Data tersebut kemudian disusun secara sistematis, dan dikompilasi menjadi catatan singkat. Teknik wawancara ini kadangkala memuat data yang kurang tepat karena sangat subyektif. Bisa saja si sumber memberikan informasi yang berlebihan, atau ada informasi yang tidak muncul karena keterbatasan teknik ini. Wubin mengerti betul bahwa cara seperti ini perlu klarifikasi data, agar subyek memberikan data yang obyektif dengan cara konfirmasi ke beberapa orang yang terkait. Namun tetap saja informasi tersebut bisa salah, namun Wubin menyertakan dokumentasi wawancara sebagai data sahih yang tidak bisa dibantah karena sumbernya disertakan.

Buku ini memuat catatan hasil survey di negara-negara Asia Tenggara dalam sempuluh bab bahasan, diantaranya di buka oleh Malaysia, Indonesia, Brunei, Thailand, Myanmar, Laos, Kamboja, Vietnam, Filipina dan terakhir Singapura. Penempatan Malaysia di susunan terdepan karena negara ini termasuk paling aktif, dalam kegiatan fotografi yang ditandai dinamika klub, komunitas yang menggairahkan Salon Fotografi. Di negara ini Wubin kesulitan untuk memisahkan praktek seni dan fotografi itu sendiri, karena didominasi para pegiat genre piktorial, ditandai kehadiran Perak Amateur Photographic Society yang lahir 1897.

Begitu juga dengan praktek fotografi di Indonesia, yang ditandai kegiatan salon foto, yang menjadi urat nadi gelora praktek-praktek fotografi, sejak kolonial Belanda hadir di Nusantara, yang pernah dituliskan oleh Anneke Groeneveld (1989). Eksistensi geliat fotografi di Indonesia ditandai kehadiran Preanger Amateur Vereneging masa kolonial awal, hingga masa kelahiran kedua kalinya menjadi Perhimpunan Amatir Fotografi (PAF) sejak 1957. Selain kegiatan seni kontemporer dan praktis, di Kamboja Wubin menemui beberapa fakta bahwa fotografi mampu menjadi teror. Pada masa pergolakan revolusi di negara ini, pas foto digunakan sebagai arsip sebelum pemberontak dieksekusi mati.

Dalam pemilihan beberapa nama yang dimunculkan, Whubin menentukan berdasarkan eksistensi seniman fotografer yang telah dibuktikan oleh waktu, namun untuk memilih fotografer dengan usia muda, dilandaskan berdasar visi dan pengaruh karyanya dilingkungan tertentu. Penentuan ini tentunya kembali ke cara pemilihan penulis, karena dalam penyusunan buku ini, pelaku fotografi komersial tidak disertakan. Pengecualian tersebut menjadi pilihan bagi Whubin, karena ia tidak begitu berminat dengan genre itu.

Apapun yang dituliskan Wubin merupakan kerja survey untuk memetakan geliat para pelaku, praktisi hingga seniman kontemporer fotografi di Asia Tenggara, termasuk di Indonesia. Sedangkan para praktisi komersial fotografi tidak dituliskan dalam buku ini, dengan alasan kekurang tertarikannya dengan genre ini. Sedangkan untuk cakupan luas wilayah Indonesia hanya di pulau Jawa dan sekitarnya, hal demikian dikarenakan masalah waktu, dan terkendala dukungan dana. Seluruh pekerjaan mengumpulkan fragmen-fragmen ini dikerjakan sendiri selama sepuluh tahun, melalui bantuan beberapa jejaring yang ia kenal, itupun jejaring yang telah ia kenal sebelumnya. Wubin telah menuliskan fragmen fotografi di Indonesia, dan fotografi  di tanah air ini wajib malu, ketika sejarahnya dituliskan oleh orang asing. (deni sugandi)