Uncategorized

Rumpang Dalam Rumpi

Catatan bincang buku Rumpang, Ully Zoelkarnain.

Dalam pemotretan feysen, ada saat-saatnya kamera dijepretkan hanya sekedar untuk mengukur tata cahaya, atau momen yang disusun oleh bingkai-bingkai hingga mendapatkan pilihan terbaik. Teknik ini biasa ditemui untuk pemotretan feysen hingga produk, beberapa bingkai dibuang untuk mendapatkan tata cahaya, sudut dan momen terbaik. Dari sekian ratusan hingga ribuan foto “gagal” ini kemudian dirangkai dan dimaknai melalui kompilasi album foto, buku disebut Rumpang.

Rumpang dalam dedaring Kamus Besar Bahas Indonesia berarti sela (selang waktu, berhenti sebentar, dan sebagainya). Waktu jeda inilah menjadi pintu masuk Ully Zoelkarnain, memainkan foto sampah, kemudian menjadi rangkaian kreatif. “dalam profesi saya, harus menghasilkan karya foto yang sempurna” jelas Ully, namun di sisi lain selalu saja ada yang menggelitiknya, bahwa foto jauh dari sempurna tersebut merupakan rangkaian menuju sempurna. Boleh dikatakan, bila tidak ada karya rumpang ini, maka tidaklah ada karya sempurna pilihan konsumen. Ully mengatakan bahwa kecenderungan konsumen saat, memilih foto yang disebut astra atau disebut juga “asal terang”. Dengan demikian tantangan profesi fotografi feysen semakin terpuruk, karena visi dan kreasinya dihargai nilai ekspresi terendah, astra tadi.

Astra menjadi pintu masuk bagi Ully untuk membuka kembali foto-foto sampah, kemudian disusun bersama editor, untuk melihat kembali rangkain proses menuju sempurna yang sering diabaikan. Dalam pemilihan fotopun diserahkan kepada pihak editor, namun itupun kary-karya relatif baru, karena karya sebelumnya hilang bersama rusaknya beberapa hardisk. Kesadaran digital asset management menjadi penting bagi pelaku fotografi profesioal. Kini para profesioan cenderung membuang karya yang dianggap tidak sempurna, dan karya pilihan konsumenlah yang disimpan.

Foto-foto yang ditampilkan jauh dari sempurna, bahkan ada satu halaman memuat foto yang “gagal” perekaman, menampakan layer warna saling bertumpuk. Terjadi karena proses perekaman kamera yang belum sempurna. Ully menggunakan kamera format medium mekaknik film, kemudian menggunakan digital back. Jenis hybrid inilah ia sering menemui kegagalan proses transfer file, karena buffer memory tidak mencukupi. Bentuk rupa seperti ini menjadi salah satu ciri penyusunan buku Rumpang, bahwa kesempurnaan dibangun oleh proses panjang ketidak sempurnaan. Buku ini dipublikasi umum, melalui distribusi self publishing, dibandrol harga dua ratus ribu rupiah.

Ully menekuni fotografi feysen sejak 2006, selepas bekerja sebagai karyawan perusahaan publikasi nasional, yang menerbitkan satu-satunya majalah fotografi Foto Media. Selepas itu belajar menekuni fotografi komersial, hingga menguhkan hatinya terjun total sebagai profesional fotografer untuk kebutuhan editorial dan feysen. Pernah bergabug di The Loop, mengerjakan SOAP Magazine, a+ Magazine, dan ini memiliki managemen sendiri di The Group, dan ulzphotography. (denisugandi)