Uncategorized

Makna Absurd Visual Diary Ismael

Catatan dari bincang buku Visual Diary 01, karya Anton Ismael

Untuk pertama kalinya, pendiri komersial photo studio Third Eye Space, Anton Ismael menyusun buku. Buku yang sebenarnya penyederhanaan dari kitab-kitab catatan proses kreatifnya, yang ditulis tangan berupa scrap book, potongan-potongan majalah, coretan gagasan hingga susunan foto yang diambil sembarangan. Fragmen-fragmen tulisan tangan tersebut selalu menjadi referensi, kemudian dirangkai menjadi “buku ide”. Rangkaian halaman diisi dengan coret coret yang tidak jelas maknanya, karena begitu sangat personal. Catatan inilah kemudian disusun menjadi modal dasar karya publikasi dengan tema catatan harian berupa visual.

Buku Visual Diary 01, berdimensi 18 x 25 cm, ISBN: 978-602-73797-0-1, diterbitkan oleh Binatang Press, dan menggunakan jalur distribusi indipenden. Dalam buku ini Anton tidak berkeinginan memberikan wacana yang berat, hanya rangkaian gelisah diterjemahkan dalam mix media, sebagai ungkapan ekpresi dirinya dalam berkarya.

Proses kreatif karya, Anton percaya dengan ungkapan out of the box. Bagaimana caranya untuk lepas dari kungkungan, keluar dari pakem yang sudah digariskan oleh norma umum. Pemberontakannya diekspresikan dengan mengahdirkan karya lintas media, antara fotografi ke grafis, hingga teknik kolase. Dititik ini Anton berkehendak untuk menjelaskan kepada publik, bahwa fotografi tidak sanggup lagi menampung visi kreasinya. Tetapi Anton sepertinya lupa, bahwa sebenarnya dalam fotografi komersial di Indonesia tidak ada lingkaran yang mengekang, dicirikan bahwa fotografi itu repetisi-mengulangi dari bentuk umum yang bisa diterima masyarakat. Apapun caranya ia ingin ke luar lingkaran, sebenarnya ia memasuki lingkaran yang baru-lebih besar, lingkaran setan yang tidak berujung.

Penyusunan buku ini suka-suka, bahkan dalam pernyataanya di bincang buku (5/12) konten buku tersebut absurd. Tidak ada makna khusus apalagi bila disandingkan dengan redaksi yang tercantum di buku. Bisa jadi Anton menyusun buku ini sebagai ungkapan ekspresinya, tanpa harus terjebak dengan penyusunan sistematika yang baku. Struktur seperti ini menandakan bentuk penolakan alias anti mapan. Dalam bincang buku Anton mengisahkan upayannya membesarkan infrastruktur fotografi sejak 2006. Dimulau melalui diskusi dan forum belajar Kelas Pagi di studionya, dan kini telah berusia 10 tahun. Menyebar hingga Yogyakarta dan kini merambah ke Jayapura, Papua.

Para alumni sekolah fotografi rakyak (gratis) telah berkiprah di dunia komersial, yang kini duduk diposisi pesaing usahanya. Anton mengerti betul bahwa persaingan akan datang, juga memberikan pilihan kreasi yang lebih beragam dibandingkan sebelumnya. Ia menjelaskan bahwa dalam lingkar kreatif komersial, pasar sangat kuat menentukan siapa yang mampu bertahan di dunia komersial. Bahkan dengan nada sinis ia menegaskan bahwa kini yang bisa bertahan dan diterima pengguna jasa karena; murah, tidak ada pilihan lain, karena hubungan pertemanan atau karena bentuk pekerjaan yang sangat spesifik.Pekerjaan-pekerjaan itulah yang membesarkan Anton Ismael, sebagai amunisi untuk mengembangkan edukasi, memberi dan membuka kesempatan.

Dalam buku ini, Anton melemparkan gagasan kepada para sidang pembaca, tanpa harus memeras otak untuk mengerti. Susunan buku ini menekankan aspek visual sebagai bahasa ungkap, dengan pendekatan gaya kontemporer. Karya fotografi atau bukan, nampaknya Anton tidak begitu peduli, namun ia lebih mempercayai metode rekam fotografi sebagai dasar kreasi yang membebaskan, saatnya rebel!. (Deni Sugandi)