Uncategorized

Deklarasi Pengurus Cabang Wakatobi

Dalam rangkaian kegiatan Hunting Bareng pada Pembukaan Festival Budaya Akbar Wakatobi Wonderful Festival and expo (WAVE2016) di Pulau Wangi-wangi. Sekaligus mendeklarasikan berdirinya Asosiasi Profesi Fotografi Indonesia Pengurus Cabang Wakatobi, di bawah APFI Pengurus Daerah Sulawesi Tenggara (15/12).

Dideklarasikan di pulau Wangi-wangi, salah satu pulau terbesar dari 4 pulau lainya; Wangi-wangi,  Kaledupa, Tomia dan Binongko, kemudian disingkat menjadi Wakatobi. Dihadiri para pegiat di komunitas Lensa Wakatobi (LEKAT), diantaranya Guntur wakatobi, Muizt bhojest, Dulan ode, Aris daeng, Esti hasrawati, Hamird, Chywank, Ade irawati, Chandra, Achunk, Edho, La andra, La Lomi, Askamil ode, Eryka febrianty, Arianti rabasi, Amal hermawan, Aswal, Uphyk, Santi, Amel, Mazar, Gusry, Izil, Darul mahendra.

 

 

Uncategorized

Mendengarkan Telinga Panjang

Catatan dari Bincang buku Telinga Panjang; Mengungkap yang Tersembunyi, karya Ati Bachtiar.

“Apakah benar apa yang saya lakukan membawa manfaat?” guman Ati dalam suatu kesempatan menjelang peluncuran buku Telinga Panjang di acara Bandung Photography Book Show 2016 (3/12). Celoteh itu masih terngiang di telinga saya, seakan-akan tugas ini menjadi beban berat seorang Ati yang nota benenya seorang ibu rumah tangga. Untuk apa seorang ibu dua anak ini berani-beraninya menapaki Kalimantan Timur hingga ke Barat? Padahal suku Dayak telinga panjang tidak meminta dirinya hadir mendokumentasikan. Namun selalu ada gundah dalam diri Ati, sepertiya ada rasa syukur yang ia terjemahkan dalam nazar yang tidak terucap. Menggali kembali keberadaan para pewaris jati diri Apokayan di hulu Mahakam, sebagai warisan dunia. Menyibak selimut misteri keberadaan Hampatong si telinga panjang; mengungkap yang tersembunyi.

***

Kapal perahu kayu itu dipacu melawan arus, sesekali harus tancap gas agar tidak tersangkut batu. Motoris atau sebutan untuk pengendara perahu, harus sigap membaca riak air. Bila air tenang menandakan dalam, namun riak semakin riuh biasanya air sungai dangkal, ditandai bongkah-bongkah batu yang tajam siap merobek lambung perahu bila tidak berhati-hati.

Semakin ke hulu perahu Ketinting ada saat-saatnya menyerah melawan arus Mahakam, terutama bila berhadapan dengan jeram-jeram yang terjal dan dalam. Dalam kondisi seperti ini, penumpang terpaksa harus turun dan memanggul bawaanya, dilanjutkan berjalan kaki melalui tepian sungai, kemudian bertemu kembali di hulu. Menaikan perahu melalui jeram bukan perkara mudah, biasanya dilakukan motoris yang telah berpengalaman dan tahu persis setiap jengkal sungai. Tragedi pernah merengut motoris dan penumpang anggota batalyon 611 yang lenyap ditelan sungai. Untuk memperingati musibah ini, ceruk tersebut dinamani ria 611. Profesi seorang motoris sungguhlah berat, selain bertanggung jawab keselamatan penumpang juga keberlangsungan rumah tangga. Karena istri sering ditinggal berhari-hari, seorang motoris harus menerima nasib sebagai “korsling” atau korban selingkuh.

Bagi suku dayak di hulu, kondisi demikian menjadi santapan sehari-hari, bahkan dianggap biasa. Aliran sungai yang diarungi biasanya akan semakin dangkal dan berbatu bila mendekati hulu. Daerah Aliran Sungai yang membentang 980 km, bermuara di Kutai Barat, melintasi Kutai Kartanegara, dan bermuara di Samarinda merupakan jalur lalu lintas penting yang menghubungkan hulu ke muara, sebagai jalur perdagangan dan kegitan sosial.

Perjalanan yang melelahkan dan berbahaya ini menjadi menu harian Ruh Hayati, atau biasa dipanggi Ati Bachtiar. Seorang ibu rumah tangga yang membulatkan tekad, mendokumentasikan komunitas telinga panjang, di hulu Mahakam, Kalimantan Timur, sebagian di Kalimantan Utara dan Kalimantan Barat yang dirangkai dalam tiga kali kunjungan. Kedatangan pertama di bulan Maret, kemudian dilanjutkan Mei 2016. Penyusunan buku ini bukan perkara mudah, karena sebelumnya telah ditata dalam bentuk perencanaan, pencarian data literatur, konsultasi, hingga pemotretan langsung ke lapangan. Mungkin ribuan bingkai yang telah di koleksi oleh Ati, mengenai keberadaan telinga panjang, baik itu terkait langsung dengan mereka, hingga situasi dan kondisi komunitas mereka tinggal. Garapan awal yang hendak disajikan dalam buku ini adalah menggunakan pendekatan portrait, namun seiring dengan perjalanan waktu, konsep tersebut kemudian berganti muatan yang lebih umum menjadi kompilasi aktivitas dan makna ritual yang tertuangkan dalam upacara budaya, ritus suku Dayak.

Kisah petualangan ibu rumah tangga ini terbayarkan, dalam bentuk buku Telinga Panjang; Mengungkap yang Tersembunyi. Buku yang disusun sebulan setelah pemotretan terbilang sangat singkat, dan tanpa jeda. Disusun oleh sang suami tercinta Ray Bachtiar, bertugas memilih foto dan merangkaikan menjadi kisah yang seperti tersaji seperti di dalam buku berdimensi 23 x 23 cm. Kemudian untuk perbaikan redaksi diraut oleh Seno Gumira Adjidarma. Terbit pertama kali tanpa nomor ISBN, bulan November 2016.

Struktur penulisan buku ini dasarnya disusun oleh Ati, kemudian dibagi menjadi tujuh bagian dalam pembabakan cerita. Fragmen-fragmen tersebut menceritakan secara runut sebelum, saat proses pendokumentasian, hingga persoalan-persoalan yang perlahan tersingkap. Dalam fragmen pertama mengisahkan awal mula dan alasan mendokumentasikan, hingga menemui beberapa masalah yang ditemui di lapangan. Informasi tersebut terbuka secara perlahan, seiring dengan penggalian informasi dari subyek melalaui metode wawancara dan pengambilan foto. Pendekatan yang digunakan Ati Bachtiar dilakukan dengan perbincangan, tanpa harus memotret terlebih dahulu. Ati menceritaka bahwa untuk memotret sang telinga panjang tidaklah mudah, karena keberadaannya di ladang pada hari kerja, bukan di desa. Tantangan berikutnya adalah para telinga panjang ini sebagian menentukan tarif untuk difoto. “Kalau pake fitur burst di kamera, tetap saja harus dihapus” ungkap Ati. Dengan demikian strategi pendekatannya yaitu dengan negosiasi melalui obrolan. Mungkin inilah keunggulan fotografer perempuan, karena bisa lebih mendekatkan dirinya dengan subyek, sehingga batas formal biasanya terbuka leluasa.

Fragmen ke dua mengupas tentang kesaksian migrasi suku Kenyah Apokayan, yang diceritakan oleh Pui Panyan (106 tahun) dari suku Dayak Kenyah Lepoq Jalan. Ia kehilangan kaki kanannya saat migrasi karena sebilah kapak menimpa kakinya. Selain itu Ati berkesempatan menyaksikan proses tanam padi di hutan ladang yang baru dibuka. Pola tanam tradisional yang masih dilakukan di sebagian suku Dayak, masih menggunakan panduan kalendar alam. Kegiatan menugal atau menanam biasanya dilakukan secara gotong royong. Di fragmen ke tiga diceritakan kegiatan piknik di sela-sela menugal atau setelah kegiatan tanam di ladang. Di kisah selanjutnya Ati dinyatakan sebagai anak angkat Christina Yek Lawing (67 tahun) dari suku Bahau, melalui prosesi adat yang singkat. Gelar yang didapatnya adalah sebutan Buaq yang berarti buah-buahan. Dari ibu angkat inilah mengalir cerita tentang persengketaan masyarakat adat Long Isun. Tanah adat seluar 80 hektar bersinggungan langsung dengan perusahaan besar pemilih HPH.

Berikutnya di fragmen ke-empat mengisahkan di upacara ritual Dayak, disebut Ritual adat Pakenong Tawai di Datah Bilang Ilir. Upacara ini merupakan ucap rasa syukur kepada yang Maha Kuasa, ditandai dengan kegiatan festival tari, paduan suara, hingga aktivitas lainya. Puncak acara ditutup dengan pencanangan Belawing Desa, yang sebelumnya dipasang 1975 pada masa orde lama. Dalam rangkaian upacara tersebut disertakan juga upacara Hudoq Pekayang dan Upacara Uman Undrat. Fungsi dan peran telinga panjang di ungkap di fragmen ke-lima. Ati merangkaikan cerita mengenai arti kecantikan bagi suku Kenyah Umaq Bakung. Termasuk proses pembentukan telinga menjadi panjang, yang membutuhkan kesabaran bertahun-tahun, kemudian berperan sebagai penanda status sosial. Selain memanjangkan telinga, di suku Bahau dan Kenyah dikenal juga seni rajah. Rajah-rajah tersebut sebagai penanda tingkatan status sosial sebagai bangsawan. Informasi hasil penelusuran Ati, mencatatkan kurang lebih 43 orang yang masih bertahan, bertelinga panjang. Alasan malu dan kurang percaya diri menjadi alasan kenapa sebagian telinga panjang harus memotong daun telingannya, agar bisa diterima di kalangan masyarakat modern. Ati mencatatkan ada 11 orang yang telah memotong daun telingannya di Puskesmas, dengan bantuan medis.

Selain kehidupan dan identitas, Ati mengarahkan lensanya ke tema kematian, saat kunjungan ke Desa Pampang, Samarinda Utara, Kalimantan Timur. Di fragmen ke-tujuh Ati menceritakan bagaimana Kenyah Bakung berduka, mengantarkan salah satu telinga panjang Amai Pejualang Injuk (88 tahun) ke peraduannya terakhir. Secercah harapan masih bisa disaksikan di desa Adat Pampang, ada beberapa generasi penerus yang masih melakoni tradisi, menjadi telinga panjang. Diantaranya Tinen Helen (45 tahun), dan Tinen Luwing (40 tahun) penari di lamin adat desa wisata Pampang.

Kerja dokumentasi ini merupakan catatan penting keberadaan telinga panjang, yang sebelumnya sering luput dari perhatian pemerintah daerah. Beberapa lembaga swadaya masyarakat lokal aktif menyuarakan identitas mereka, tetapi masih dianggap kurang lengkap dalam pendataan visual. Artinya belum ada album fotografi yang faktual mengenai keberadaan mereka saat ini.

Kerja Ati telah membuka wacana tentang identitas budaya yang tergerus pusaran jaman, hilang perlahan karena konstelasi sosial-buaya. Dalam kondisi demikian biasanya pemerintah tidak pernah hadir, tetapi ada di kebijakan-kebijakan yang selalu berpihak kepada kapital besar, atas nama investor yang berwujud kemudahan mengeluarkan izin Kesatuan Pengelolaan Hutan. Semoga melalui jalinan fragmen dalam susunan buku ini, bisa memberikan gambaran luas persoalan identitas kebangsaan, yang kini secara perlahan dikepung oleh ideologi kapitalis, dan dipudarkan secara sistematis dengan cara mengalih fungsikan hutan. Ati Bachtiar telah berjanji kepada para Inay untuk melawan lupa. (Deni Sugandi)

Uncategorized

Mamuk Memelihara Ingatan

Catatan dari bincang buku Tanah yang Hilang, Mamuk Ismuntoro

Pria bersahaja ini saya kenal awal 2002 di Surabaya, ketika ia duduk sebagai pewarta foto di majalah seni Mossaik. Setelah itu bekerja untuk editor foto Surabaya Post. memulai karir jurnalistiknya setelah menamatkan di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi  – Almamateri Wartawan Surabaya (Stikosa – AWS). Setelah itu kemudian menjadi pewarta foto selama lima tahun, kemudian memutuskan untuk berkegiatan dokumenter. 2006 mendirikan komunitas Matanesia, diantaranya memiliki program buku fotografi dan diskusi.

Melalui PanaFoto Institute, melahirkan buku foto ke-tiga Tanah yang Hilang (2014). Buku yang memuat korban Lumpur Sidoarjo ini, dikisahkan dengan apik melalui garapan bersama. Kesempatan menyusun buku ini hadir saat 2005 ia bertugas meliput perajin perak di desa Reno Kenongo, kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo. Tugas ini mengantarkannya kembali setelah lumpur menyembur, menggenangi beberapa desa yang kemudian hilang ditelan gunung api lumpur. Mamuk menelusuri kembali jejak perkampungan yang pernah ia kunjungi sebelumnya, di kecamatan Tanggulangin, Porong dan Jabon.

Dalam kesempatan bincang buku Tanah yang Hilang di rangkaian event Bandung Photo Book Show 2016 (5/12), Mamuk menguraikan perjalanan menyusun buku, tidak lebih dari upaya untuk memelihara ingatan, bahwa bencana alam selalu terkait dengan ulah manusia.

Buku dengan didisain persis seperti bentuk surat tanah, dengan ukuran 20 x 30 cm, dicetak di atas kertas art papper tanpa dijilid. Konsep demikian mengingatkan dengan monograf surat dokumen tanah, lengkap dengan redaksi keterangan kepemilikan dan denah lokasi. Terbagi menjadi dua segmen, satu segmen berupa karya foto; dipilih berdasarkan susunan gambar yang mendeskripsikan suasana wilayah yang tergenang lumpur, dan pembacaan-pembacaan simbol. Sedangkan di segmen berikutnya, dikelompok terpisah yaitu tulisan pengantar.

Menurut Mamuk, sebaiknya dalam penggarapan buku, fotografer harus tahu kapasitasnya, karena munculnya gunung lumpur ini sangat teknis. Sebaiknya tidak menyimpulkan atau bahkan membuat statemen yang belum tentu diterima banyak orang, karena peristiwa bencana inipun belum bisa dipastikan oleh faktor apa.

Tanah yang Hilang mengingatkan kembali bagaimana alam mampu menelan jaman, karena ulah manusia itu sendiri menyebabkan 60 ribu lebih orang kehilangan tempat tinggalnya. Ingatan kolektif tersebut biasanya ditiadakan karena keberadaanya tidak menyenangkan, kemudian hilang. (Deni Sugandi)

Uncategorized

Lintasan Bingkai Indonesia Menurut Wubin

Catatan singkat bincang buku “Photography in Southeast Asia; A Survey” Zhuang Wubin

“How are you, it’s been a long time” begitulah pembuka Zhuang Wubin, saat kami menjemputnya di salah satu penginapan yang tidak terlalu jauh dari lokasi kegiatan. Sapaan tersebut merupakan pertemuan kedua, menyoal buku karyanya yang akan dipresentasikan di rangkaian acara Photography Book Show 2016 (8/12) di ruang Spasial, Jalan Gudang Selatan nomor 22 Bandung. Wubin sengaja hadir atas undangan panitia Bandung Photography Month 2016, bekerja sama dengan Asosisasi Profesi Fotografi Indonesia (APFI).

Pertemuan terakhir saya dengan Wubin cukup lama, kurang lebih lima tahun lalu, saat bincang buku Chinese Muslim in Indonesia (14/10, 2011) mengantarkan diskusi sebagai moderator, di Selasar Sunaryo Art Space. Buku yang mengupas komunitas para mualaf peranakan Tionghoa, kemudian menjadi keluarga muslim di Indonesia.

Penelitian, buku dan Whubin sepertinya tidak bisa terpisah, karena ia memilih menuliskan dalam rangkaian kalimat tinimbang mewujudkan dalam visual. Ia termasuk penulis produktif, yang sering melakukan kegiatan riset kecil-kecilan yang di danai sendiri. Termasuk menerbitkan buku dengan dananya sendiri, meskipun sebagian dibantu melalui dana hibah, namun sepenuhnya berasal dari keinginan pribadi.

Zhuang Wubin adalah penulis, kurator, dan pemotret dokumenter. Sebagai penulis ia lebih menitikberatkan pada praktek fotografi di Asia Tenggara. 2010 mendaptkan hibah peneletian dari Prince Claus Fund (Amstedam), dan kini duduk sebagai dewan editor di Trans-Asia Photography Review, jurnal publikasi yang didanai oleh Hampshire College dan Universitas of Michigan Schoalry Publication Office sejak 2013. Sebelumnya ia telah menerbitkan tiga buku; Chinese Muslim in Indonesia (2011), Ten Chinatown of Southeast Asia (2010), dan Chinatowns in a Globalizing Southeast Asia (2009).

Dalam kesempatan ini, Wubin hadir sebagai tamu undangan, mempresentasikan karya terakhirnya Photography in Southeast Asia; A Survey. Kompilasi data hasil survey mengenai perkembangan para praktisi fotografi di Asia Tenggara. Buku ini merupakan rangkuman kerja lebih dari sepuluh tahun, dimulau dari 2004 yang hendak memetakan perkembangan fotografi Asia, namun 2006 kemudian dipertajam hanya di area Asia Tenggara.

Buku ini merupakan kegiatan ilmiah yang dirancang melalui penelitian, untuk memperoleh informasi terkini yang bisa terukur dan bisa dipertanggung jawabkan. Beberapa pendekatan selain metode survey, dikenal juga beberapa metode yang memiliki kelebihan dan kekurangan yang mampu menjaring data sebanyak mungkin, diantaranya metode deskriptif, korelasional, komparatif, evaluasi, simulasi, studi kasus hingga peneltian praktis yang lebih menekankan pada beberapa kasus yang lebih mengkerucut.

Buku disusun berdasarkan data dari teknik pengumpulan kuantitatif survey, melaui metode wawancara. Prosedur penelitian ini lebih mengkerucut untuk mengumpulkan data atau informasi tentang populasi yang besar dengan menggunakan sampel yang relatif terbatas. Populasi tersebut bisa berkenaan langsung dengan orang, lembaga hingga komunitas,tetapi sumber utamanya adalah individu. Namun yang menarik adalah luas jangkauannya, semakin luas akan semakin akurat tetapi biasanya membutuhkan waktu yang sangat lama. Penelitian metode survey memiliki tiga tujuan utama yaitu menggambarkan keadaan saat itu, mengiidentifikasi secara terukur keadaan sekarang sebagai perbandingan, dan menentukan hubungan kejadian secara spesifik.

Menurut Wubin penyusunan buku ini membutuhkan waktu yang tidak singkat. Setelah beberapa kali menyusun draft dan revisi, yang memakan waktu kurang lebih sepuluh tahun penyusunan. Data-data ia kumpulkan saat berkesempatan menjadi pengajar di beberapa lokakarya di negara Asia Tenggara. Untuk pencarian data, Wubin menggunakan sumber-sumber literasi penelitian sebelumnya, kemudian ia mutahirkan melalui wawancara secara acak.

Metode penyusunan fotografi yang ia kembangkan dalam buku ini, berasal dari teknik wawancara. Data tersebut kemudian disusun secara sistematis, dan dikompilasi menjadi catatan singkat. Teknik wawancara ini kadangkala memuat data yang kurang tepat karena sangat subyektif. Bisa saja si sumber memberikan informasi yang berlebihan, atau ada informasi yang tidak muncul karena keterbatasan teknik ini. Wubin mengerti betul bahwa cara seperti ini perlu klarifikasi data, agar subyek memberikan data yang obyektif dengan cara konfirmasi ke beberapa orang yang terkait. Namun tetap saja informasi tersebut bisa salah, namun Wubin menyertakan dokumentasi wawancara sebagai data sahih yang tidak bisa dibantah karena sumbernya disertakan.

Buku ini memuat catatan hasil survey di negara-negara Asia Tenggara dalam sempuluh bab bahasan, diantaranya di buka oleh Malaysia, Indonesia, Brunei, Thailand, Myanmar, Laos, Kamboja, Vietnam, Filipina dan terakhir Singapura. Penempatan Malaysia di susunan terdepan karena negara ini termasuk paling aktif, dalam kegiatan fotografi yang ditandai dinamika klub, komunitas yang menggairahkan Salon Fotografi. Di negara ini Wubin kesulitan untuk memisahkan praktek seni dan fotografi itu sendiri, karena didominasi para pegiat genre piktorial, ditandai kehadiran Perak Amateur Photographic Society yang lahir 1897.

Begitu juga dengan praktek fotografi di Indonesia, yang ditandai kegiatan salon foto, yang menjadi urat nadi gelora praktek-praktek fotografi, sejak kolonial Belanda hadir di Nusantara, yang pernah dituliskan oleh Anneke Groeneveld (1989). Eksistensi geliat fotografi di Indonesia ditandai kehadiran Preanger Amateur Vereneging masa kolonial awal, hingga masa kelahiran kedua kalinya menjadi Perhimpunan Amatir Fotografi (PAF) sejak 1957. Selain kegiatan seni kontemporer dan praktis, di Kamboja Wubin menemui beberapa fakta bahwa fotografi mampu menjadi teror. Pada masa pergolakan revolusi di negara ini, pas foto digunakan sebagai arsip sebelum pemberontak dieksekusi mati.

Dalam pemilihan beberapa nama yang dimunculkan, Whubin menentukan berdasarkan eksistensi seniman fotografer yang telah dibuktikan oleh waktu, namun untuk memilih fotografer dengan usia muda, dilandaskan berdasar visi dan pengaruh karyanya dilingkungan tertentu. Penentuan ini tentunya kembali ke cara pemilihan penulis, karena dalam penyusunan buku ini, pelaku fotografi komersial tidak disertakan. Pengecualian tersebut menjadi pilihan bagi Whubin, karena ia tidak begitu berminat dengan genre itu.

Apapun yang dituliskan Wubin merupakan kerja survey untuk memetakan geliat para pelaku, praktisi hingga seniman kontemporer fotografi di Asia Tenggara, termasuk di Indonesia. Sedangkan para praktisi komersial fotografi tidak dituliskan dalam buku ini, dengan alasan kekurang tertarikannya dengan genre ini. Sedangkan untuk cakupan luas wilayah Indonesia hanya di pulau Jawa dan sekitarnya, hal demikian dikarenakan masalah waktu, dan terkendala dukungan dana. Seluruh pekerjaan mengumpulkan fragmen-fragmen ini dikerjakan sendiri selama sepuluh tahun, melalui bantuan beberapa jejaring yang ia kenal, itupun jejaring yang telah ia kenal sebelumnya. Wubin telah menuliskan fragmen fotografi di Indonesia, dan fotografi  di tanah air ini wajib malu, ketika sejarahnya dituliskan oleh orang asing. (deni sugandi)

Uncategorized

Makna Absurd Visual Diary Ismael

Catatan dari bincang buku Visual Diary 01, karya Anton Ismael

Untuk pertama kalinya, pendiri komersial photo studio Third Eye Space, Anton Ismael menyusun buku. Buku yang sebenarnya penyederhanaan dari kitab-kitab catatan proses kreatifnya, yang ditulis tangan berupa scrap book, potongan-potongan majalah, coretan gagasan hingga susunan foto yang diambil sembarangan. Fragmen-fragmen tulisan tangan tersebut selalu menjadi referensi, kemudian dirangkai menjadi “buku ide”. Rangkaian halaman diisi dengan coret coret yang tidak jelas maknanya, karena begitu sangat personal. Catatan inilah kemudian disusun menjadi modal dasar karya publikasi dengan tema catatan harian berupa visual.

Buku Visual Diary 01, berdimensi 18 x 25 cm, ISBN: 978-602-73797-0-1, diterbitkan oleh Binatang Press, dan menggunakan jalur distribusi indipenden. Dalam buku ini Anton tidak berkeinginan memberikan wacana yang berat, hanya rangkaian gelisah diterjemahkan dalam mix media, sebagai ungkapan ekpresi dirinya dalam berkarya.

Proses kreatif karya, Anton percaya dengan ungkapan out of the box. Bagaimana caranya untuk lepas dari kungkungan, keluar dari pakem yang sudah digariskan oleh norma umum. Pemberontakannya diekspresikan dengan mengahdirkan karya lintas media, antara fotografi ke grafis, hingga teknik kolase. Dititik ini Anton berkehendak untuk menjelaskan kepada publik, bahwa fotografi tidak sanggup lagi menampung visi kreasinya. Tetapi Anton sepertinya lupa, bahwa sebenarnya dalam fotografi komersial di Indonesia tidak ada lingkaran yang mengekang, dicirikan bahwa fotografi itu repetisi-mengulangi dari bentuk umum yang bisa diterima masyarakat. Apapun caranya ia ingin ke luar lingkaran, sebenarnya ia memasuki lingkaran yang baru-lebih besar, lingkaran setan yang tidak berujung.

Penyusunan buku ini suka-suka, bahkan dalam pernyataanya di bincang buku (5/12) konten buku tersebut absurd. Tidak ada makna khusus apalagi bila disandingkan dengan redaksi yang tercantum di buku. Bisa jadi Anton menyusun buku ini sebagai ungkapan ekspresinya, tanpa harus terjebak dengan penyusunan sistematika yang baku. Struktur seperti ini menandakan bentuk penolakan alias anti mapan. Dalam bincang buku Anton mengisahkan upayannya membesarkan infrastruktur fotografi sejak 2006. Dimulau melalui diskusi dan forum belajar Kelas Pagi di studionya, dan kini telah berusia 10 tahun. Menyebar hingga Yogyakarta dan kini merambah ke Jayapura, Papua.

Para alumni sekolah fotografi rakyak (gratis) telah berkiprah di dunia komersial, yang kini duduk diposisi pesaing usahanya. Anton mengerti betul bahwa persaingan akan datang, juga memberikan pilihan kreasi yang lebih beragam dibandingkan sebelumnya. Ia menjelaskan bahwa dalam lingkar kreatif komersial, pasar sangat kuat menentukan siapa yang mampu bertahan di dunia komersial. Bahkan dengan nada sinis ia menegaskan bahwa kini yang bisa bertahan dan diterima pengguna jasa karena; murah, tidak ada pilihan lain, karena hubungan pertemanan atau karena bentuk pekerjaan yang sangat spesifik.Pekerjaan-pekerjaan itulah yang membesarkan Anton Ismael, sebagai amunisi untuk mengembangkan edukasi, memberi dan membuka kesempatan.

Dalam buku ini, Anton melemparkan gagasan kepada para sidang pembaca, tanpa harus memeras otak untuk mengerti. Susunan buku ini menekankan aspek visual sebagai bahasa ungkap, dengan pendekatan gaya kontemporer. Karya fotografi atau bukan, nampaknya Anton tidak begitu peduli, namun ia lebih mempercayai metode rekam fotografi sebagai dasar kreasi yang membebaskan, saatnya rebel!. (Deni Sugandi)

Uncategorized

Rumpang Dalam Rumpi

Catatan bincang buku Rumpang, Ully Zoelkarnain.

Dalam pemotretan feysen, ada saat-saatnya kamera dijepretkan hanya sekedar untuk mengukur tata cahaya, atau momen yang disusun oleh bingkai-bingkai hingga mendapatkan pilihan terbaik. Teknik ini biasa ditemui untuk pemotretan feysen hingga produk, beberapa bingkai dibuang untuk mendapatkan tata cahaya, sudut dan momen terbaik. Dari sekian ratusan hingga ribuan foto “gagal” ini kemudian dirangkai dan dimaknai melalui kompilasi album foto, buku disebut Rumpang.

Rumpang dalam dedaring Kamus Besar Bahas Indonesia berarti sela (selang waktu, berhenti sebentar, dan sebagainya). Waktu jeda inilah menjadi pintu masuk Ully Zoelkarnain, memainkan foto sampah, kemudian menjadi rangkaian kreatif. “dalam profesi saya, harus menghasilkan karya foto yang sempurna” jelas Ully, namun di sisi lain selalu saja ada yang menggelitiknya, bahwa foto jauh dari sempurna tersebut merupakan rangkaian menuju sempurna. Boleh dikatakan, bila tidak ada karya rumpang ini, maka tidaklah ada karya sempurna pilihan konsumen. Ully mengatakan bahwa kecenderungan konsumen saat, memilih foto yang disebut astra atau disebut juga “asal terang”. Dengan demikian tantangan profesi fotografi feysen semakin terpuruk, karena visi dan kreasinya dihargai nilai ekspresi terendah, astra tadi.

Astra menjadi pintu masuk bagi Ully untuk membuka kembali foto-foto sampah, kemudian disusun bersama editor, untuk melihat kembali rangkain proses menuju sempurna yang sering diabaikan. Dalam pemilihan fotopun diserahkan kepada pihak editor, namun itupun kary-karya relatif baru, karena karya sebelumnya hilang bersama rusaknya beberapa hardisk. Kesadaran digital asset management menjadi penting bagi pelaku fotografi profesioal. Kini para profesioan cenderung membuang karya yang dianggap tidak sempurna, dan karya pilihan konsumenlah yang disimpan.

Foto-foto yang ditampilkan jauh dari sempurna, bahkan ada satu halaman memuat foto yang “gagal” perekaman, menampakan layer warna saling bertumpuk. Terjadi karena proses perekaman kamera yang belum sempurna. Ully menggunakan kamera format medium mekaknik film, kemudian menggunakan digital back. Jenis hybrid inilah ia sering menemui kegagalan proses transfer file, karena buffer memory tidak mencukupi. Bentuk rupa seperti ini menjadi salah satu ciri penyusunan buku Rumpang, bahwa kesempurnaan dibangun oleh proses panjang ketidak sempurnaan. Buku ini dipublikasi umum, melalui distribusi self publishing, dibandrol harga dua ratus ribu rupiah.

Ully menekuni fotografi feysen sejak 2006, selepas bekerja sebagai karyawan perusahaan publikasi nasional, yang menerbitkan satu-satunya majalah fotografi Foto Media. Selepas itu belajar menekuni fotografi komersial, hingga menguhkan hatinya terjun total sebagai profesional fotografer untuk kebutuhan editorial dan feysen. Pernah bergabug di The Loop, mengerjakan SOAP Magazine, a+ Magazine, dan ini memiliki managemen sendiri di The Group, dan ulzphotography. (denisugandi)

Uncategorized

Bandung Photography Book Show 2016

Tidaklah banyak para pembingkai gambar mekanik-elektronik menyusun buku. Baik itu dalam bentuk scrapbook atau penyusunan yang lebih serius. Sejak kemunculan budaya literasi fotografi yang dimulai melalui buletin fotogafi di lingkungan klub Perhimpunan Fotografi Amatir (PAF), kemudian mekar melebar menjadi Fotografi Indonesia (Fotina) melalui pemred alm. Leo Nardi. Fotina menjadi cikal bakal kelahiran salah satu majalah yang bertahan lama, distribusi nasional, dan menjadi satu-satunya sumber referensi fotografi Indonesia, bernama Foto Media. Namun sayang, satu-satunya sumber pencerahan harus tutup umur karena persoalan klasik, rendahnya minat baca, oplah menurun, biaya produksi meningkat.

Jelang awal 2010 beberapa penerbit khusus fotogafi hadir, diantara pegiat swapublikasi (self publishing) melalui jalur indie label-pre order. Diantaranya Galeri Fotografi Jurnalistik Antara (GFJA) yang getol menerbitkan buku foto katalog hingga karya-karya lama dalam bungkusan re-mastered. Kemudian Panna Photo Institute, Matanesia Surabaya dan beberapa berlabel sendiri. Inilah bentuk sumber informasi fotografi, dalam perwajahan yang lebih menawan, diwartakan melalui kacamata personal.

Untuk merangkum geliat penerbitan swapublikasi, Program Studi (Prodi) Fotografi dan Film Unpas, bekerja sama dengan Asosiasi Profesi Fotografi Indoensia (APFI), menggagas dummy book show, dan bincang fotografi yang dikemas dalam Photography Book Show 2016, rangkaian dari kegiatan Bandung Photo Month 2016 yang ke-empat. Mengambil tempat di ruang inkubasi usaha bersama Spasial, Jalan Gudang Selatan Nomor 22 Bandung.

Acara yang berlangsung dari 3 Desember, hingga tanggal 9. Dibuka dengan Launching Buku Telinga Panjang karya Ati Bachtiar (3/12), kemudian dilanjutkan beberapa hari ke depan, diantaranya diskusi buku oleh Ully Zoelkarnain, Anton Ismael, Mamuk Ismuntoro (Matanesia), Ati Bachtiar, Seno Gumira Ajidarma, Zhuang Wubin, Mesk 56 dan diskusi seputar dummy book show bersama submission artist.

Event ini menjadi ajang silaturahmi para pegiat swapublikasi fotografi, seluruh Indonesia melalui lintas komunitas.