IMG_0775

IMG_0757

IMG_0670Budaya tulis sepertinya tenggelam oleh kegiatan visual, sehingga menjadi alasan kenapa para pemotret merasa selesai tugasnya, dengan menghadirkan gambar (baca. Foto). Anggapan tersebut terus menjadi cara berfikir pelaku fotografi di Indonesia dari generasi awal hingga kini, dengan bukti begitu sedikitnya publikasi yang berkaitan dengan fotografi. Sebut saja Ed Zoelverdi dalam bukunya “Melihat Untuk Sejuta Mata” atau buku fotografi jurnalistik saduran yang disusun RM. Soelarko. Atau bahkan lebih jauh lagi, lahirnya bulettin berkala yang diterbitkan oleh Preanger Amateur
Fotograf Vereneging melalui bulettin “De Lens”, kemudian berlanjut menjadi Foto Indonesia, sebagai cikal bakal Foto Media. Dalam rangkain even Bandung Photo Month tahun ke-tiga, Prodi Fotografi dan Film FISS Unpas, bermitra dengan Asosiasi Profesi Fotografi Indonesia (APFI) bersama-sama memberikan apresiasi bagi para pelaku pahlawan fotografi yang aktif menerbitkan tulisan, melalui majala, publikasi online atau penulis lepas.

Anugerah dilangsungkan di kampus FGF FISS Unpas (24/10, 2015), dengan lima kategori yang sesuai dengan jenis dan upaya publikasi yang pernah diterbitkan media offline (cetak) dan online. Diantaranya; majalah elektronik (PDF) Exposure Magz yang diterima oleh Farid Wong. Untuk bulettin diberikan kepada Bulettin PAF (Perhimpunan Amatir Fotografer). Harian Umum Kompas dianugrahi untuk kolom khusus fotografi di setiap penerbitan minggu yang diterima oleh Harian Umum Kompas. Life time Achivement, dr. Kamarga sebagai penulis aktif dibeberapa media nasional, pada masanya.

Anugerah Fotografi Bandung ke-3 dihadiri oleh pejabat, dari Bekraf, Bambang Widjanarko, dari AFI Harri Daryanto. Dibuka oleh Pembina Fotografi dan Film, FISS Unpas, Komar Hanafi dan APFI oeh Sjuaibun Iljas (APFI Pusat), dan civitas akademi FISS Unpas serta komunitas fotografi di Bandung. (admin)