Uncategorized

Catatan Dari Pelaksanaan Uji Kompetensi Fotografi Penda Jambi

Editorial Uji kompetensi Level 3 Fresco Photo Learn 17 Oktober 2015
CATATAN DARI PELAKSANAAN UJI KOMPETENSI FOTOGRAFI JAMBI

Sejarah Fotografi Indonesia telah menambahkan halaman baru dengan mencatatkan Uji Kompetensi bidang Fotografi yang diadakan pertama kalinya di Jambi pada 17 Oktober 2015. Uji kompetensi ini adalah langkah lanjutan dari perjalanan panjang penyusunan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) bidang Fotografi sejak awal tahun 2014 lalu. Sesuai dengan KKNI, Uji kompetensi fotografi ini lebih diarahkan pada para profesional yang tidak melalui jenjang pendidikan formal bidang fotografi.

Untuk itu negara menghadirkan dirinya untuk memfasilitasi pengakuan kualifikasi profesi yang sah untuk para profesional yang selama ini belajar secara otodidak ataupun melalui lembaga kursus non formal yang belum distandarisasi. Dikarenakan proses pembelajaran yang belum distandarisasi, pada uji kompetensi pertama ini muncul beberapa permasalahan, utamanya adalah masalah bahasa dan penggunaan istilah fotografi. Namun disitulah kearifan penguji kompetensi diuji, asalkan dengan maksud yang sama dengan kunci jawaban tentu bisa dibenarkan.

Pada uji kompetensi ini, benar-benar terlihat kematangan peserta ketika berhadapan dengan penguji. Mereka yang sudah berpengalaman dibidang fotografi pun mengalami permasalahan kepercayaan diri, apalagi bagi peserta yang hanya punya persiapan dengan menghafal teori, yang belajar secara -maaf-“karbitan”, yang selama ini karyanya selalu dapat penghargaan dan disukai di media sosial. Artinya, keberhasilan untuk melewati uji kompetensi ini benar-benar untuk mereka yang telah hangus matang dibidang ini dan mendalami seluk beluk fotografi untuk waktu yang cukup lama. Uji kompetensi ini merupakan rekognisi pembelajaran lampau, dimana peserta uji kompetensi me-recall pengetahuan dan pengalaman mereka selama ini dalam sesi ujian teori dan praktik. Namun itu semua tidaklah cukup dan bahkan bisa hilang begitu saja di depan penguji, jika tidak diiringi dengan mental keprofesian yang mantap.

Walaupun uji kompetensi hanya sampai level 3, yang isinya merupakan kemampuan fotografi dasar individual non-tim, pembelajaran fotografi menyeluruh peserta uji kompetensi selama ini akan terlihat. Permasalahan mental yang belum siap akan menjadikan peserta gugup dan menjadi pembuka untuk melakukan kesalahan lebih lanjut. Disinilah pengalaman keprofesian berbicara, dan tentunya bukanlah masalah yang berarti bagi mereka yang sudah terbiasa menghadapi klien. Uji Kompetensi yang diadakan di Jambi 17 Oktober 2015 telah menguji level 3 dari 9 level KKNI.

Hasil kualifikasi ini adalah produk dari Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia berhadiah jaminan Negara terhadap kualifikasi lulusan Uji Kompetensi dan pengakuan atas pembelajaran sepanjang hayat dengan sertifikat yang dikeluarkan oleh Negara.

Dengan memiliki Sertifikasi Kompetensi, nantinya mereka bisa mengerjakan proyek pemotretan yang menggunakan dana anggaran negara/pemerintah,
mengerjakan proyek pemotretan dari perusahaan yang menerapkan ISO,
menjadi instruktur di Lembaga Kursus dan Pelatihan terdaftar.

Hal tersebut merupakan penerapan dari PP No. 8 tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia dan Permenakertrans No. 8 tahun 2012 tentang Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia, yang diperkuat lagi dengan Undang-Undang No. 3 tahun 2014 tentang Perindustrian yang ditekankan pada pasal 19 ayat 2 bahwa Tenaga teknis paling sedikit memiliki kompetensi teknis yang sesuai dengan SKKNI dibidangnya. Aturan aturan yang telah dibuat tersebut tentunya bukan sekedar aturan yang mempersulit dan mempersempit ruang gerak, melainkan sebagai fasilitas untuk menjadi wirausaha yang berkarakter dan bermental kewirausahaan, seperti yang disinggung pada Undang-Undang No. 3 tahun 2014 tentang Perindustrian pasal 17 ayat 1.

Bukan hanya Negara dan perusahaan-perusahaan ber-ISO, bahkan masyarakat luas adalah pengguna jasa fotografi yang selalu membuka mata dan telinga terhadap perkembangan yang selalu terjadi. Bukan tidak mungkin jika nantinya masyarakat/perorangan yang telah teredukasi akan mensyaratkan sertifikasi kompetensi sebagai jaminan awal atas pekerjaan yang akan mereka berikan.

Tantangan Uji Kompetensi ini adalah jembatan yang akan menghantarkan iklim dunia usaha yang baru dan lebih kompetitif serta mengangkat harkat keprofesian secara luas. Bagi mereka yang membutuhkan harus mempersiapkan diri lebih dari sekedar bagaimana mereka menghadapi klien dan bukan hanya sekedar hafalan dari buku atapun tutorial yang mengajarkan secara instan.

Maju Fotografi Indonesia, #‎becertified

Ade Yolvi, Penguji Kompetensi dan Pengajar Magnus Pictures Palembang (nilek in progress :D))